Write, Read, and Share

Inside of Me

Tiada tiara terbaik yang kan kau temukan tanpa menyelam
Tiada mentari terhangat di ufuk timur tanpa kau melangkah
Tiada harap terjadi tanpa kau berlaku

Friday, April 1, 2016

Nggak susah menemukan jalan terang di ruang gelap. Mungkin itu kiasan yang tepat buat gue yang sedang mencari seorang yang nyentrik kayak Lovi diantara manusia-manusia berpakaian gelap ala rocker ya. Cuma tinggal menjinjitkan jari kaki, terus cari aja cewek dengan rambut berwarna pirang nyetar yang dikucir kuda. And, here she comes! Lompat-lompat ngikutin irama musik yang beatnya nggak tanggung-tanggung. Gue dengan terpaksanya menyelinap diantara lautan hitam nan, euh, a lil bit berbau menyengat. Apa AC disini nggak berfungsi sih?

"Lov, lo kudu keluar dari sini sekarang juga!" Suara gue masih kalah dengan musik yang entah berapa desibel besarnya. Akhirnya gue narik Lovi supaya menjauh dari panggung. 

"Kenapa, Ra?" Sebenarnya gue nggak punya alasan khusus buat menarik Lovi lebih jauh, tapi gue nggak suka dengan hiruk pikuk begini. Gue pingin ngajak dia pergi entah kemana pun yang penting telinga gue nggak ada resiko budeg. "Ehm," 

"Makan, yuk? Gue laper." Alasan pertama. Wish me luck dengan alasan ini ya, guys. 

"Kan lo tadi udah makan sebelum ke sini?" 

"Iya, sih, tapi gue masih laper." Sebisa mungkin gue meyakinkan Lovi kalau perut gue masih butuh asupan karbohidrat (padahal, euh, gue udah kenyang banget). 

Gue lihat Lovi mengernyit bingung. Jangankan dia, gue sendiri juga bingung kenapa milih alesan yang agak-agak beresiko menyakiti diri gue sendiri. "Kalau lo nggak mau, ya udah, gue cari makan sendiri aja, deh, Lov." Asal kalian tahu, ini adalah salah satu trik gue supaya Lovi mau ikut gue keluar dari sini. 

"Yah, gue sih pingin nemenin elo makan. Tapi gue lagi punya mangsa nih!" Nah, mangsa siapa lagi kali ini yak. Gue sampai bosen lihat Lovi yang setiap bulannya ganti gandengan, yang berarti juga gonta ganti 'sopir'. Gue memutar bola mata dengan malas. Ya sudah, mau gimana lagi, nasib gue yang jomblo ngenes ini ternyata menyusahkan juga ya. 

"Ya udah, gue mau ke kafe deket sini ya. Ntar kalau lo udah selesai, telpon gue aja." Lovi mengangguk, dan gue mulai berbalik. 

***

Susah bener ya, punya sahabat yang doyan dugem nyampe malem gini. Terus terang saja, gue nggak begitu suka dugem, apalagi musiknya yang bisa membuat gendang telinga gue ini pecah dan juga bau alkohol yang, iyuh, bikin gue pingin muntah. Dan, thanks to Lovi yang menolak untuk menemani gue keluar demi 'mangsa' barunya dia dan yang membuat gue terpaksa menikmati siksa jomblo di kafe yang berjarak beberapa toko dari club itu. 

Seperti biasa, gue hanya memesan macchiato kesukaan gue dan memilih untuk duduk di luar. Udara malam ini sedikit lebih dingin daripada biasanya. Nggak heran bikin gue pingin pindah ke dalem, tapi sayangnya udah nggak ada tempat lagi di dalem. Gue akhirnya mengurungkan niat buat mindah pantat gue. 

"Mbak, pindah ke dalem aja, disini dingin. Ada satu meja kosong di bawah tangga." Suara berat dan dalam menginterupsi lamunan gue. Huh! Gue lagi seru-serunya ngelamunin Vego yang lagi main piano sewaktu promnight nanti, eh, malah diganggu.

Gue menoleh ke arah suara itu. Eh?! 

Panjang umur bener itu orang ya. 

"Go?" Cowok itu terlihat sama kagetnya dengan gue. Gue memperhatikan sekilas penampilannya. Bukan waiter. Tapi kenapa dia memperlakukan gue kayak dia itu waiter di sini ya. Atau dia itu part time job di sini? Oh My, cowok seganteng dan seimut dia gini kok kerjanya jadi waiter ya. 

"Lo ngapain di sini?" Suara itu mengganggu pikiran gue lagi. Memang kayaknya di depan cowok ganteng nggak boleh memperlihatkan seberapa terpesonanya kita ke dia ya. "Eh, gue, euh" Dia masih menatap gue datar. Sedatar permukaan lautan yang dilihat dari pesawat deh. 

"Nggak ngapa-ngapain, cuma nungguin Lovi keluar dari club aja." EKSPRESINYA MASIH DATAR DAN NGGAK ADA KATA YANG KELUAR DARI BIBIR SENSUALNYA. YA TUHAN! Oke, sorry, gue mendadak alay gini. Tapi beneran, deh, cowok satu ini bikin gue gemes setengah hidup. Kalau di sekolah, ya, gini, udah kayak es balok berjalan, tapi tadi waktu nyuruh gue masuk, ramahnya kayak udah ekspert banget nge-welcome-in orang-orang. 

"Masuk aja. Itu ada meja kosong." Udah? Gitu doang? Ahahah! Gue sepertinya mengharap terlalu jauh ya. Tuhan, tolong gerakkan tangan ajaibku padaku supaya aku nggak jomblo-jomblo amat malam ini, setidaknya beri aku satu teman yang keren. I wish doang sih. 

Ajaib! Pantat gue nggak mau lepas dari kursi ini. Gue mager. Jadi, sekeren apapun Vigo, kayaknya instruksinya ke gue nggak mempan sekarang. Biarin aja gue masuk angin, biarin aja besok si mbok pegel-pegel ngerokin gue, biarin aja besok gue nggak ikut pelajaran olah raga. Yes! Gue mau nggak ikut pelajaran olah raga aja. 

"Telinga lo nggak rusak, kan, Ra?" EH?

"Ih, nyindirnya gitu amat, sih, Go!" Protes gue. Sebenernya juga gue nggak sakit hati, cuma pingin aja sekali-sekali ngomong gitu ke Vego. Lagi pingin gitu, soalnya gue jarang banget ngomong sama manusia satu ini. 

Vego cuma mengendikkan baunya, terus jalan masuk lagi. Ini orang bener-bener ya! 

Demi sopan santun, gue akhirnya masuk dan menempati tempat yang tadi Vego bilang, di bawah tangga. Agak ngeri juga sih, mengingat gue lagi makai dress warna broken white gini, bisa-bisa gue disangka makhluk penunggu meja itu kali. Hiyy! 

Tunggu. 

Ini gue yang salah lihat atau gimana ya. Itu kayak Vego lagi jalan ke arah gue gitu dengan setumpuk kertas. Mata gue nggak lepasnya dari wajah yang, hmmmmm, delicious itu. Rambutnya hitamnya nggak bergerak mengikuti langkahnya (biar nggak mainstream)

Satu

Dua

Tiga

"Lo mau bantuin gue nyelesein proposal buat prom nggak?" Ihiyyyy! Demi apapun, perut gue lagi banyak uletnya gini, geli-geli seneng jijik gimana gitu. Geli, karena jarang banget nih Vego minta bantuan, ngomong aja jarang, walaupun sekelas sama gue. Seneng, iya lah, siapa yang nggak seneng kalau cowok pujaan hati lo minta bantuan lo. Dan jijik, dia pake acara senyum-senyum memohon gitu. Yah, walaupun sepingin-pinginnya gue lihat senyuma Vego, tapi bukan senyum gitu juga kali. 

"Emang belum selesai? Lah sekertaris lo kemana? Kok lo yang ngerjain sih?" Dia kembali natap gue datar. My fault deh. 

"Masih ada pertanyaan?" 

"Ehehehe.. Enggak." Dia akhirnya duduk di samping gue. Pardon me, samping gue! Ini peristiwa langka yang pernah terjadi dalam tiga tahun gue hidup di jenjang sekolah menengah atas. Catat itu! 

Vego kemudian membuka laptopnya dan menaruhnyadi hadapan gue. Sedangkan dia menyusun kertas-kertas tadi. "Lo tolong ketikin, ya? Gue yang bacain sekalian mau nyusun kertas ini." Kepala gue cuma bisa naik turun ngangguk-ngangguk. 

Menit berikutnya gue udah berkonsentrasi penuh dengan laptop Vego sambil mendengarkan suara merdu Vego. 

"Ra, lo bisa bikin template buat LPJ nggak? Biar gue bisa ngerjain langsung setelah selesai prom." Ini apaan sih? 

"Kenapa nggak sekertaris lo yang bikin sih? Lo nggak percaya sama dia?" Gue mengernyit. Sebenernya nggak enak juga ngomong begini sama si Vego, tapi gue penasaran banget kenapa dia mau ngerjain proposal sama LPJ by himself

"Dia selalu mundur dari deadline, bikin gue stress tahu, nggak." It sound like he grumbling. Gue baru kali ini denger dia menggerutu dengan nada yang datar. Sebenernya baru kali ini gue denger orang menggerutu dengan nada datar sih. Tapi wajahnya nggak datar, seperti benar-benar menggerutu. Thanks, God, gue akhirnya lihat ekspresi dia selain ekspresi datar!

"Oh. Kalau gue menawarkan diri gue buat bantuin lo gimana?" Dia menolehkan wajahnya ke arah gue. Haha! (ketaw jahat). Gue bisa lihat wajahnya dari deket, guys! Alisnya tampak naik satu, yang artinya dia bingung dengan kalimat gue tadi. 

"Lo yakin? Lo bisa tepat waktu?" 

"Yep. Why not?" Dia mengangguk-angguk. "Oke, gue setuju. Jadi, sekarang cepet bantu gue nyelesaiin proposal ini. Dan besok, kalau bisa cicil LPJnya." Waduh, baru disetujui jadi bawahan udah dapet perintah dari si bos aja sih gue. 



To Be Continued
Hi, guys! gue lagi bikin yang part-part-an nih, soalnya tiba-tiba stuck ditengah jalan. Jadi gue putuskan untuk membuatnya jadi beberapa bagian. Mungkin gue bakal ngepost part 2 nya setelah gue UN ya. Harap sabar menunggu ya! And thanks for reading my story! sorry, templatenya tidak mensupport buat ngepost dengan huruf italic 

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.