Write, Read, and Share

Inside of Me

Tiada tiara terbaik yang kan kau temukan tanpa menyelam
Tiada mentari terhangat di ufuk timur tanpa kau melangkah
Tiada harap terjadi tanpa kau berlaku

Friday, April 8, 2016

Like what I said before, gue nggak bisa lebih dari merasa menang dengan Dio yang mengusap rambut gue DI DEPAN CANTIKA. Let me spell it once more, di depan Cantika. Gue berhasil bikin dia membeo dengan mulutnya yang membentuk huruf o besar. Sebenarnya nggak cuma Cantika doang yang cengo, hampir seluruh manusia di kelas gue tiba-tiba membisu, kecuali Jodi (Ya udah pasti aja Jodi tahu apa yang Dio bakal lakukan setelah ini. Pasti Dio cerita panjang kali lebar deh ke Jodi). 
"Awas kalau jam 5 sore tepat lo belum muncul di depan rumah gue, gue nggak bakal sudi nemenin lo." Ancaman yang rada-rada norak sih itu sebenarnya. Secara, ngapain sih gue minta Dio ontime kalau gue sendiri pasti dandannya lama (lo tahu sendiri tipikal cewek kalau mau ngedate). "Iya, iya, non. Kalau perlu sejam sebelumnya gue udah di rumah lo deh, bantuin Tante Ti sambil nungguin lo gitu." 
Gue cuma bisa melotot. Yang dipelototi malah balik senyum lagi. Ini gue rada-rada curiga sama kelakuan dese selama dua hari ini, kayak ada udang dibalik bakwan gitu deh. Tapi bagaimana pun, kalau udah namanya suka, apa aja bisa dilakukan kan (kecuali suruh yang aneh-aneh bin zina. Itu bakal gue tolak mentah-mentah!). 
"Ya udah, makan, gih! Gue balik ke kelas dulu ya, Ge!" Gue nggak bilang apa-apa setelah itu, biarin aja dia pergi, supaya debar dihati gue juga ikutan pergi. Uh! Gue kadang nggak tahan kalau kelamaan di deket Dio gitu, jantung gue berasa kayak pingin lari dari rongga dada gue dan menari-nari di udara. 
"Ge, tadi si Dio ngapain? Ajaib bener kelakuannya." 
"Jangankan lo yang bingung. Gue aja masih nggak paham sama sikapnya itu." Gue nggak bohong, loh. 
"Gila aja si Dio, bisa jadi baik banget gitu. Setahu gue, dia itu sadis banget kalau ke cewek. Beuh, kayak es balok berjalan." Gue mengangguk. Emang bener sih kata si Luna, Dio emang selama ini kalau memperlakukan cewek itu dingin, berasa dia adalah the coolest iceman (udah iceman, pake coolest lagi). 
"Udah ah, ini makanan keburu basi kalau kita ngegosip Dio mulu." Dengan selera makan gue yang mendadak sangat baik, makan siang yang tadi Dio bawakan tandas dalam waktu 15 menit saja. Eh, ini gue yang kelaperan maksudnya. 
                                                                                                 ***
Bahhhh! Gue merasa sangat ngantuk, coy! Setelah semaleman nggak bisa tidur gara-gara keinget waktu jalan sama Dio, yang sebenernya sangat menyenangkan, tapi karena jantung gue nggak bisa tenang, jadilah gue mendadak sering blank gitu. But, gue akuin, Dio nggak segitu nyebelinnya kok waktu jalan sama gue, malah gue berasa cewek paling dipuja sama Dio. (Alay)
"Ge, ada yang nyariin tuh di bawah!" Suara Mama melengking dari depan pintu sepertinya. "Siapa, Ma?" Kata gue sewaktu gue menengok ke depan pintu. 
"Lihat aja sendiri. Tuh di ruang tengah. Mama mau ke butik dulu ya, kalau kamu mau pergi, jangan lupa ngomong sama simbok ya." Gue cuma mengangguk. 
Untung gue udah mandi wangi gini, kalau belum, kan, berabe aja itu orang suruh nunggu di bawah. Tapi pasti bukan Luna, cewek satu itu kalau sampai rumah gue pasti langsung lari-lari ke kamar gue, nggak perlu nunggu di bawah segala. Jadi, siapa orang misterius yang datang berkunjung pagi-pagi begini? 
Gue memutuskan untuk turun tanpa mengganti baju santai gue, cuma pakai kaos warna kuning bergambar Snoopy dan celana selutut bermotif tentara. 
"Who's there?" Apa suara gue sedang salah saluran? Kenapa gue merasa suara gue terdengar lebih ceria ya, kayak mbak-mbak SPG yang lagi nawarin produk gitu. 
Orang itu. Eh, ralat, cowok itu menoleh. 
"Dio?" 
Kayaknya gue nggak sedang ulang tahun atau dia lagi seneng-senengnya bikin gue kaget, apa gimana sih? Gue masih nggak ngerti ini anak maunya apa. Seneng sih sebenernya, tapi kalau ada maksud lain, kan, gue geer jatuhnya. 
"Morgen, Ge!" Sapanya dengan ceria. Nggak kalah cerianya sama gue tadi, by the way. 
"Lo kenapa sih belakangan bikin gue mikir yang enggak-enggak. Sebenernya lo kenapa sih?" Maafkan diri gue yang nggak bisa menahan gejolak bertanya ya, jadilah gue langsung ceplos aja. 
"Mikir yang enggak-enggak apa?" OMAGA! Dia sambil senyum-senyum penuh arti gitu sih. Makin curiga gue. "Ya, lo kenapa dua hari ini aneh banget, nggak kayak biasanya." Jelas gue sejelas-jelasnya, tapi kalau masih kurang jelas, gue nggak bakal nanya lagi deh. 
"Gue nggak kenapa-kenapa. Cuma pingin aja ngajakin lo jalan, main sama lo gitu. Kan, udah lama banget kita nggak main." Rasanya gue kayak disamber geledek! JRUSSSS! 
"Gue masih nggak ngerti, deh, Di. Jadi, sebenernya mau lo apaan?" Dio mengernyit seperti nggak paham maksud gue barusan. Euh! 
"Gue tahu pasti lo punya maksud dibalik kelakuan baik lo selama dua hari ini, kan?" Bukannya menjawab, eh, si Dio malah tertawa kepingkal-pingkal sampai posisinya udah nggak berada di atas sofa lagi, tapi sudah turun ke karpet. Ya jelas, gue cengo gitu, ini anak kelakuannya selain aneh, tapi juga ngegemesin ya. Pingin gue tendang pantatnya itu. 
"Udah ketawanya?" Kata gue setelah dia berusaha berhenti tertawa, yang gue tahu itu rasanya susah banget, harus tarik napas panjang-keluarkan berkali-kali sampai ketawanya reda. 
"Aduh, Ge! Lo itu lucu banget, deh, orang baik gini dibilang aneh. Udah, ah, mumpung gue masih suka sama lo, gue mau ajak lo ke taman. Yuk!" APA?????? SUKA????? 
"Tunggu, tunggu. Lo tadi bilang apa?" Tangan gue menengadah, menyuruhnya untuk tetap duduk dan meminta penjelasan atas kata yang bikin gue shock. Dia patuh aja tetep duduk di karpet berbulu tebal kesayangan gue, sambil narik tangan gue supaya gue ikutan duduk di hadapannya. 
"Jadi, Ge. Gue emang nggak romantis ya, tapi gue mau bilang kalau gue," berhenti sejenak. "Gue tertarik sama lo." 
Hening
Tik
Tok
Tik
Tok
"Terus?" Alamak! Gue sepertinya lagi dirasuki jin yang super berani deh, mulut gue bisa-bisanya menyeletuk ditengah kegiatan mengheningkan cipta ini. Dio nggak langsung menjawab, dia malah tersenyum tulus. Uh, dia bener-bener bikin gue gila dengan senyumnya yang asimetris itu. 
"Terus, sekarang lo cepet ganti baju dan kita berangkat ke taman. Gue ngomong itunya ntaran aja." Entah dia punya sihir apa lagi yang bisa bikin gue otomatis mengangguk patuh, kembali ke kamar buat ganti baju, terus buru-buru turun lagi. 
"Ambil sepeda lo, gih! Kita nyepeda ya, biar sehat!" Kayak nggak bisa bikin gue lebih kaget daripada yang tadi deh, Di! Yap, gue nurut aja tanpa berkomentar ngambil sepeda di garasi, lalu ngeluarin dan naruh di samping DIo
"Eh, Di, sebentar, gue lupa bilang ke simbok. Bentar ya!" Buru-buru gue ke dapur nyari simbok cuma mau bilang kalau gue mau ke taman, mungkin agak lama. Dan kemudian kembali ke karpot. 
Dio nggak ubahnya berdiri menyandar ke seddle sepeda. HOH! He's look sooooo, gue nggak bisa menjelaskan betapa gue terpikat sama cowok (setengah dewa mungkin) ini. Badannya yang, so atletis berkat basket yang dia tekuni selama ini, berbalutkan kaos pas badan dan celana training tiga perempatnya, rambutnya yang dipotong pendek dan ada jambul pendeknya. SELAMATKAN GUE DARI SIKSA NIKMAT INI YA TUHAN! 
"Ge?" 
"Eh iya, sorry." Dia terkekeh atas kebodohan gue memandanginya selama beberapa detik itu. Ah, malu sendiri gue jadinya. Nggak apa deh, setimpal dengan pemandangan yang gue lihat barusan. I think i deserve that


Dio. Dio. Dio. Sementara gue nggak bisa berhenti menggumamkan namanya, itu orang masih aja bermain-main dengan beberapa anak kecil yang, yeah, tampak gembira banget main sama dia. No doubt, itu anak-anak bisa suka banget bercandaan sama Dio, gue aja yang udah gede dicandain dikit langsung melambung jauh terbang tinggi. 
Kebayang nggak sih kalau nanti gue udah punya suami (gue berharap banget suami gue nanti si Dio. Aamiin!), terus gue punya dua anak, yang satu cowok yang satu lagi cewek, dan kami menghabiskan weekend kami di taman kayak gini atau di tempat hiburan lainnya deh. Nggak kebayang betapa bahagianya gue saat itu, melihat suami gue bermain dengan asiknya sama anak-anak gue. 
EH APAAN INI?! Gue kok mikirnya udah jauh aja sih! Aduhhhh. Lupain deh. Ngayal banget gue bisa jadi istrinya si pangeran berkuda putih itu. Huhh! 
"Ge! Sini deh!" Hah? Gue lihat Dio lagi melambaikan tangannya ke arah gue, mengisyaratkan gue untuk mendekat mungkin. 
"Apa?" Kata gue kalem, yang lebih mirip kayak bisikkan sih sebenernya. Tapi Dio paham apa yang ucapkan barusan, nyatanya dia sekarang berteriak, "Udah ke sini aja cepet!" Tanpa banyak protes lagi, gue berjalan menuju ke tempat Dio berdiri sama dua anak cowok dan seorang anak cewek yang rambutnya di kepang dua. Lucu banget anak cewek itu!
"Apa?" Tanya gue begitu gue udah memposisikan kaki gue buat berdiri tepat di hadapannya. Bukan berarti gue nggak perang batin buat ngambil posisi seperti ini ya, gue deg-degan bukan main, takut kalau-kalau Dio langsung mengambil jarak aja. 
"Guys, kenalin ini namanya Kak Gea. Kenalan dulu!" Mampus gue! 
"Hai, Kak Ge! Aku Nino!" Salah satu anak cowok yang berdiri di depan gue dengan tangan kiri menggenggam sebuah botol minum, menyodorkan tangan kanannya yang kosong ke gue. "Halo, Nino!" Gue menyalaminya dengan riang. Gue seneng banget sama anak yang lucu dan sopan kayak Nino gini. Pingin gue bawa pulang deh rasanya. 
"Kak Gea, aku Rein dan ini Lola. Senang bisa kenal sama pacarnya Kak Dio!" Seorang anak cowok satu lagi yang mengaku namanya Rein mendekati gue dengan senyum lebarnya. Aih! Besok gue pingin punya anak-anak kayak mereka bertiga yang lucu, sopan, manis, dan baik begini. 
"Halo, sayang! Senang bisa berkenalan dengan kalian!" Senyum gue nggak pudar gitu aja setelah perkenalan singkat itu. Oh iya, gue punya satu pertanyaan setelah perkenalan Rein dan Lola. "Oh ya, Rein, memang kapan Kak Dio bilang kalau Kakak pacarnya Kak Dio?" Alis kanan anak itu melengkung naik. 
"Loh, memang Kak Gea bukan pacarnya Kak Dio?" Gue menanggapinya tersenyum saja, sambil menggeleng. Memang bukan, kan, katanya sih baru mau mengatakannya setelah sampai di taman, tapi nyatanya sampai sekarang nggak ngomong-ngomong. 
"Yah! Kak Dio gimana sih! Kak Gea cantik dan baik begini kok nggak langsung dijadiin pacar aja?" Ini emaknya sang anak-anak pernah memberikan pelajaran tentang hubungan remaja atau orang dewasa atau bagaimana ya, kok si Rein udah tau yang namanya pacaran gitu. 
"Belum, Rein, besok-besok aja kalau Kak Dio sudah mantep." Gue mengernyit. Dasar Dio labil! 
"Jadi sekarang belom mantep nih, Di?" Gue bertanya dengan nada menggoda, eh, tapi si Dio malah menatap gue datar, lalu dengan enggan menggelengkan kepalanya. Yah, kalau gitu apa boleh buat, gue cuma bisa menunggu ini orang menambatkan hatinya ke gue. Sebesar apapun perasaan gue, kalau Dionya belum bisa ya terpaksa gue harus menunggu. Lagi. Gue nggak bisa maksain perasaan gue. Gue nggak mau seperti si centil Cantika gitu. Euh, amit-amit deh! 
"Guys, mau beli es krim? Kak Gea lagi pingin es krim, nih!" Demi menyelamatkan harga diri dan perasaan gue yang tiba-tiba seperti mau remuk, mending gue mengalihkan pembicaraan ini sekarang juga. Ya, dengan mengajak Nina, Rein, dan Lola buat makan es krim yang dijual di pojok taman. Mereka bertiga menganggukkan kepala setuju. 
"Yuk!" Gue menggandeng Lola dan Rein, sedangkan Nino berjalan dengan santai sama Dio. Euh, khayalan gue tentang suami dan anak-anak gue mulai muncul lagi, kan! 


"Makasih, Kak Di, Kak Ge!" Mereka bertiga mengucapkan terima kasih secara kompak, kayak paduan suara aja ya? Hihihi. Lucu banget!
"Iya, sayang!" Ih, gue berasa kayak emaknya mereka bertiga deh. 
"Ge?" Gue menoleh ke arah pemilik suara berat nan seksi di sebelah gue yang sedang menatap botol minumnya. Gue asumsikan dia sedang menghindari tatapan mata gue. "Kenapa?"
"Soal yang tadi, gue...." 
"Udah lah, nggak usah dibahas." Bisa apa coba gue selain ngomong kayak gitu. Gue sudah terlanjur sakit, nggak mungkin juga kalau sakit hati gue ini perlihatkan ke orang yang sudah bikin gue sakit hati tapi dia nggak tahu perasaan gue yang sebenarnya. "Lo main aja sama mereka, gih! Eh iya, sebenernya mereka bertiga itu siapa sih, kok begitu nyampe sini mereka langsung nyamperin lo?" Gue mendengar helaan napas panjangnya sejenak, sepertinya dia lega gue nggak meminta penjelasan atas kata-katanya tadi. 
"Err.. Mereka itu ponakan gue." 
"Ponakan?" Setahu gue sih Dio nggak punya kakak ya. Masa selama gue hidup di dekat Dio, gue nggak tahu kalau Dio punya kakak. Dia itu anak tunggal malah.
"Ponakan dari sepupu gue maksudnya." Gue hanya ber-oh ria menanggapi Dio. Jujur saja, gue nggak tahu harus menanggapi dia seperti apa lagi. Speechless gitu deh bahasa gaulnya. "Main, yuk, sama mereka!" Gue merasakan Dio belum beranjak dari bangku panjang itu. Biarlah, gue nggak mau terus-terusan merasa sedih. Mending juga gue main sama anak-anak lucu itu, hitung-hitung penghibur lara gue hari ini lah.  

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.