Write, Read, and Share

Inside of Me

Tiada tiara terbaik yang kan kau temukan tanpa menyelam
Tiada mentari terhangat di ufuk timur tanpa kau melangkah
Tiada harap terjadi tanpa kau berlaku

Friday, April 15, 2016

Hai hai hai, gue kembali lagi dengan part 5 nya! YEY! Ini mumpung mumpung gue masih pasca UN (belum mulai siapsiap mempersiapkan the worst case of 'penerimaan mahasiswa baru'), jadi gue putuskan untuk terus menulis selama gue masih macam kuda nil ngendon di aer ya, gaes! Jangan lupa comment and vote (gue akan terus mengingatkan hal ini selama gue masih menulis yaaa :) )
Selamat menyelam dalam lautan luka dalam! 
***
GEA's POV
Ouh, entah udah berapa pak tisu yang gue habiskan semalam suntuk buat membuang semua cairan bening yang mengalir keluar dari mata dan hidung gue, sampai Mama neriakin kalau stok tisu di rak udah habis karena gue. 
Gue tekankan sekali lagi, gue bukan cewek yang lemah diluar kuat di dalem, gue itu sebaliknya. Dan ruginya memiliki mental cemen seperti gue ada banyak. Gue nggak akan sebutin satu-satu karena kalian tau sendiri apa kekurangannya. By the way, punya mental gini sepertinya nggak ada kelebihannya sama sekali. 
Euh, mental begini sih lebih tepat dibilang pengecut sih. Tapi udahlah, kita skip bagian bahas tentang mental gue yang lagi break down gini. 
Ini hari rabu. RABU. Yey! Gue harus bahagia hari ini, karena rabu is the most beautiful day of the week. Kenapa? Karena dihari rabu bakalan ada sesi membuat lagu. Yap, hari rabu ada jadwal pelajaran musik, dan gue sangat menyukai pelajaran ini ketimbang pelajaran yang lain. Alesannya simpel. Musik selalu bikin gue tenang, bukan musik yang hard core juga sih. Mama mengenalkan gue dengan musik sejak kecil, sejak gue SD kelas 2 lebih tepatnya. Mama mulai mengajarkan gue bermain grand piano putih kesayangannya yang sekarang berada di bawah tangga. 
Rabu. Saatnya untuk tidak menghiraukan sakit hati gue ya. Jadi, Dio, lo gue sekip buat hari ini!
Dan FYI, gue hari ini ulang tahun loh. Nggak kebayang gimana bahagia campur sedihnya gue hari ini. Tapi lebih banyak senengnya sih :) Hehehe
***
"Hi, my dear! Lo udah mendingan?" Luna. As usual. Gue belom pernah bilang ya? Luna itu sahabat gue yang bisa gue percaya sejak SMP kelas 1. Gue nggak bilang dia nggak punya kelemahan, tapi seenggaknya bisa dipercaya buat tetap ada disisi gue selama, euh, jalan 4 tahun mungkin? Ah, whatev! Gue pingin sahabatan dengannya seumur hidup gue!
"Mendingan pala lo peang!" Gue mendengus pelan. "Nggak lihat apa ini mata udah kayak disengat tawon?" Lanjut gue sambil nunjuk ke arah kedua mata gue yang membengkak ini. Pedih coy!
"Oh, temen gue tersayang. Gue cuma bisa mendoakan lo nggak jadi mata panda yang paling lo benci aja sih!" HAH! Gue cuma bisa ngakak nggak tertolong. Terima kasih yang paling tulus akan gue sampaikan pada my lovely Luna karena berhasil membuat gue tertawa di pagi hari yang mendung berat gini. 
"Lo kayak nggak tau gue aja sih, paling bentar lagi ini mata udah kayak mata panda, seperti yang lo bilang tadi." Ini gue beneran sedih waktu ngomong ini. Gue nggak mau berbohong juga dan harus gue akui gue akan menangis sehebat mungkin di ruang musik yang pasti sepi (kebanyakan anak kelas gue bakal bolos karena gurunya sih udah tua dan itu guru sendiri nggak protes dengan keadaan ruang musik yang selalu cuma ada gue dan diera aja).
"Yah, gue harus siapin eye lid super banyak deh!"
"Kampret lo! Huahahaha! Udah ah, gue mau ke ruang musik. I heard the piano's twang from somewhere!" Sabodo teuing dengan Luna yang sekarang bersungut-sungut karena gue tinggal ke ruang musik, sedangkan dirinya melangkah ke ruang seni rupa. 
Nggak seperti biasanya, kaki gue seperti diberi beban 10 kilo. Berat banget buat bergerak ke ruang musik aja, padahal nggak harus naik tangga loh. Kampret deh buat siapapun yang sudah bikin mood gue ancur-ancuran gini!
"Ge! Yuk ke ruang musik bareng!" Loh ada apaan ini, kok Jeremy, Galuh, Feby, sama Rian tiba-tiba ngajakin ke ruang musik? Ini mereka kesambet setan apaan sih? Gue heran, deh. 
"Kalian baru aja kena santet Pak Beny ya?" Nyindir sih iya banget. Haaaa! 
"Eh, lo belum denger?" 
"Denger what?" Galuh dan Feby langsung membeo begitu gue melontarkan pertanyaan barusan. Sepertinya gue melewatkan gosip paling hot kemaren ya? 
"Serius lo nggak tau?" Apalah daya budak ini tak mengerti apa-apa. Kalian tau sendiri kemaren gue kemana, kenapa, dan bagaimana deh. Gue akhirnya cuma menggeleng pasrah. 
"OMAGA, Gea! Lo belum denger kalau Pak Beny itu udah pensiun dan sekarang kita dapet guru baru yang katanya hot banget?" Cengo lagi deh gue akhirnya. Maafkan mulut gue yang nggak tahan untuk terbuka pas denger kabar baru ini, gaes. Mereka berempat ikutan geleng-geleng deh, tapi gelengnya mereka itu karena mengasihani gue yang kudet dua hari ini. EUH! Gue nggak sudi dapet tatapan Rian yang so hiuhh itu. 
"Ya udah, itu gurunya udah di depan studio. Samperin yuk!" Maafkan gue, Dio. Kaki gue langsung ringan begitu lihat sosok indah rupawan yang lagi berdiri di depan ruang musik atau studio -kalau anak musik sering bilang. Badannya, euh, no doubt, kayaknya rajin olah raga itu guru baru. Rambutnya nggak klimis, nggak berantakan juga, match gitu dengan penampilannya. Huh, let me meet him first ya. 
"Pak Alvin, kan?" Tanya Feby nggak tau malu. Gue beneran nggak pernah paham dengan jalan pikiran Feby selama gue kenal dia. Dia itu main sambar aja, mulutnya nggak pernah bisa ditahan. Nggak ragu lagi berapa banyak cowok yang illfeel sama dia yang ceplas ceplos mengatakan perasaannya. 
"Kalian anak-anak kelas XI 1?" Hohohohoho! Suaranya keren gilak! Sorry, ma prince charming, gue harus mengakui kalau suara lo nggak seganteng suara Pak Alvin ini, Dio, lo kalah telak dengannya. Jadi jangan berharap gue bakal langsung memilih dengerin lo nyanyi kalau ada Pak Alvin. 
"Iya, Pak!" Temen-temen gue serempak banget bikin koor gitu ya, sampai bikin Pak Alvin senyum liat kekompakan mereka kali. Gue kagum deh dengan temen-temen sekelas gue yang bisa bikin kesan baik di depan guru baru gini. 
"Masuk dulu ya. Kita kenalan di dalam saja!" 
***
So, here we are. Di dalam studio musik dengan piano di sudut studio dan beberapa alat musik lain tertata rapi di semua sudut. Kami baru saja selesai berkenalan. Dari perkenalan barusan, gue mendapat beberapa info tentang Pak Alvin, eh salah, Kak Alvin. You know, beliau nggak mau dipanggil 'pak' karena umurnya masih 23 tahun. Euh, nggak beda jauh sih sama gue. Ehehehe 
"Ge, kata Galuh kamu pinter main piano?" Eh, ember bocor is here, boookkk. Sebel banget deh! Gue langsung melototi Galuh yang mulutnya pingin gue jahit macam hantu yang di film Ouija deh. Gila aja memberi info tentang gue ke stranger gitu. (Gue masih menganggap guru ganteng di depan gue ini stranger yooo). 
"Biasa aja, Kak." Gue berusaha merendah dong pastinya, nggak mau dapet kesan sombong banget. 
"Coba kamu main deh, ntar biar aku yang nilai kamu itu biasa aja atau ekspert.WHAAAA'? He said wha'?  Wohooo, gue sih dengan senang hati melakukannya, tapi lihat si Feby deh, matanya udah jelalatan sambil melotot ke arah gue dengan sangarnya. Nggak deh, makasih kalau udah liat matanya Feby kayak mau keluar gitu. 
"Nggak deh, Pak, besok-besok aja kalau mau ambil nilai." 
Eh si Bapak, eh salah lagi, Kak Alvin malah ketawa kecil gitu. Apa lucunya kalimat gue barusan ya? 
"Oke kalau gitu, saya mau ambil nilai kalian sekarang. So, Jeremy, kamu pegang alat apa?" Ini kakak ganteng satu ini kok seneng banget bikin kaget sih. Makin emesh deh. Oooo, untuk kali ini gue mau melupakan Dio sejenak ya, buat kesehatan hati gue yang lagi pulih pelan-pelan banget. 
HOOOOOO. Jeremy, done. Rian, lewat. Galuh, perfect. Feby, on going. Dan gue setelah ini. Gue nggak tau harus gimana. Ini bukan pertama kalinya gue ambil nilai, di tempat kursus gue udah beratus-ratus kali melewati ujian. Tapi kok sekarang malah nderedeg gini ya? Seinget gue, gue nervous gitu pas ujian pertama dan kedua sama pas show gue pertama. Tangan gue sekarang tremor. Jadi, tell me, gue harus gimana sekarang!
DIO. 
Dio yang biasanya ada di pikiran gue kalau gue mau manggung (gue mulai melakukan metode ini sejak jantung gue mendadak nggak santai waktu lihat Dio). Dan itu selalu berhasil. 
Sama seperti sekarang. Tapi gue benci banget mengakui hal ini selama gue sedang menabuh genderang perang, gue nggak seharusnya mikirin cowok yang bikin gue mental break down gini. Tapi apalah daya, gue mau ambil nilai ini, gue nggak mau dapet nilai jelek cuma karena salah menekan tuts. 
Oh, maafkan kemunafikan gue kali ini, gue harus melakukan hal ini. 
Gue membayangkan Dio yang sedang berjalan ke arah gue sambil tersenyum manis banget, saking manisnya gue mendadak kena diabetes. Oh, ganti bagian yang terakhir. Dia kemudian berdiri di depan gue sambil menopang dagu dan menatap gue intens. 
AAAAA! Gue bisa gila kalau gini caranya. Gimana gue bisa move on coba kalau metode ini yang harus gue pakai. Kalau misalkan si Kak Alvin yang gue tampilkan di pikiran busuk gue ini, bisa-bisa gue nggak konsen dengan permainan gue ntar. 
Susah bener deh.
"Ge, giliran kamu!" Kak Alvin menepuk pundak gue pelan. Oh kini giliran gue. Wish me luck ya, guys! 
***
Ini rumah kok sepi ya? Gue jadi parno gini kalau rumah gue sepi bin nyenyet tambah gelap lagi. Gue harus apa coba. Ya gue harus nyalain lampu, kakek-kakek salto juga tau kali ya! Tapi gue penasaran, apa di meja makan ada makanan yang bisa bikin perut gue kenyang dan pikiran gue nggak berantakan. Gue menyangsikan hal itu deh. 
"Ma! Pa! Mbok!" Dalam satu kali tarikan napas gue berteriak sekencang mungkin. Bomat dengan tetangga yang keganggu sama suara gue. Mumpung gue juga sedang mood berteriak sekeras-kerasnya. 
Dan, hoaaah! Nggak ada satu orang pun yang menyahuti teriakan gue ini. Ma, Pa, kalian tega meninggalkan anak satu-satunya kalian dengan keadaan mengenaskan gini ya? Mana simbok juga hilang entah kemana lagi. Huuuu! 
Ya udah, gue ke kamar aja kali deh. Kayaknya gue masih menyimpan beberapa bungkus oreo di lemari. Ssstt, ini rahasia kita aja ya. Gue selalu menyimpan beberapa bungkus makanan buat nemenin gue belajar malam-malam, jadi nggak garing gitu, selama belajar ada suara kriuk-kriuk

Ceklek!

SURPRAISE!!!  

Apa-apaan ini?! Rambut gue dipenuhi pita-pita dan gliter warna-warni. Mama, Papa, Luna, Jodi, dan........... Gue nggak percaya ini. 
Dio
Masih berani nginjek rumah gue setelah apa yang lo lakukan ke gue?! Gue bener-bener nggak habis pikir dengan cowok ganteng slash nyebelin bin ajaib ini. Mau kasih gue surpraise apa lagi sih yang bakal bikin gue lebih sakit lagi? Capek gue udahan. 
"Happy birthday, Gabriella Fiona!" Suara Papa mendistrak lamunan gue yang bertahan beberapa saat. Dilanjutkan dengan dilanjutkan dengan pelukan, begitu pula dengan Mama, Luna, Jodi, dan yang terakhir Dio. Tapi Dio nggak meluk gue ya, cuma ngucapin selamat ulang tahun doang. 
Boleh gue jujur? Gue mengharapkan Dio memeluk gue. Apa saking desperatenya gue, gue jadi memikirkan hal yang aneh-aneh sih? Tapi gue bisa apa selain mengubur dalam-dalam keinginan gue yang absurd banget itu. 
"Dear, Gea. Lo masih bingung gitu ya ngeliat kita semua di kamar lo?" Jodi sialan! Gue lagi asik-asiknya membuat keinginan sebelum gue tiup lilin gitu. 
"Tiup lilinnya, Ge!" Mama menyunggingkan senyum yang bikin gue adem sambil menyodorkan kue tiramisu kesukaan gue. Gue nurut aja, sambil mengucapkan terima kasih gue meniup lilin yang mati tapi beberapa saat kemudian nyala lagi.
Vangkek! 
Ini pasti kerjaannya Jodi sama Luna yang usilnya bikin gue terkagum-kagum. Thanks to both of you deh, gue cinta kalian berdua, Jod, Lun! With my ass
Yeeh, kalian bisa tau setelah itu bakal terjadi apaan. As the usual thing to do pas ada orang yang ulang tahun, kami makan malam dengan Lasagna kesukaan gue yang dibuatkan Mama, setelah itu buka kado. Tradisi banget sih. 
"Ini buat kamu." Mama menyodorkan gue sebuah box warna hitam dengan pita ungu diatasnya. Tanpa segan, gue langsung membuka kotak itu. Ternyata sebuah miniatur grand piano bening (dan berat banget coy ternyata. FUALA! Papa baru kasih tau kalau terbuat dari berlian. GILA!) yang kalau dibuka mengeluarkan lagu 'Love of My Live' nya Queen, lagu kesukaan gue sepanjang masa deh! Gue senang bukan main dan kemudian sebagai rasa terima kasih gue, gue mendaratkan satu kecupan di pipi Mama dan Papa. Kan, jarang banget gue ngecup orangtua gue gitu. Kurang sweet apa gue? Hahaha!
Mama Papa sepertinya memberi Jodi, Luna, dan Dio waktu buat ngobrol sambil memberikan kadonya buat gue deh. Akhirnya Mama dan Papa beranjak dari ruang tengah ke halaman belakang. Jadi sekarang tinggal kami bertiga yang cuma diem-dieman nggak jelas.
"So, gue sama Jodi punya hadiah buat lo, Ge!" Luna memecah hening. Akhirnya!
Luna dan Jodi kayaknya juga lagi irit-irit pakai uang deh. Mereka patungan beliin gue tiga novel series Theodore Boonenya John Grisham yang belum diterjemahin. Pstt, mereka katanya beli langsung ke Amazon loh, dan gue tau harganya mahal banget, kayaknya terakhir gue lihat harganya sekitar $31.25 atau sekitar Rp430.000 gitu deh. Terima kasih buat peri-peri gigi gue yang sudah mengabulkan permintaan gue yang gue buat sekitar dua tahun yang lalu. Kalian berhasil bikin gue terkesan! 
Terakhir dan yang paling gue tunggu-tunggu. Dio lah, siapa lagi. Kalau simbok sih hadiahnya sudah gue terima dari gue bayi sampai sekarang, yaitu dengan mengasuh gue sampai segede gini. 
Dio berjalan mendekati gue. Dag dig dug jantung gue, berdegup secepat kereta paling cepat di Jepan. Ah, alay, tapi gue emang beneran deg-degan, coy. Nggak ada yang bikin gue lebih gemeteran dari pada ini, gemeterannya tadi siang aja nggak separah ini. 
"To be honest, Ge, gue lupa kalau hari ini lo ulang tahun. Gue baru ingat waktu Jodi minta temenin gue ke sini." 
JEGLER! 
Gue nggak kaget sih sebenernya, emang tahun-tahun lalu dia nggak pernah ikut ngerayain, cuma ngucapin lewat facebook doang (yang karena ada notifnya-_-). Ya, gue bisa maklumin lah buat manusia satu ini. Dan, sekali lagi thanks to my ganteng Jodi yaaa. 
"Jadi gue nggak mempersiapkan apa-apa. Jadi buat hadiah lo, gue cuma bisa ngasih ini." 
Gue mengernyit. Katanya nggak mempersiapkan apa-apa tapi kok bawa box lumayan gitu ya? Gue jadi penasaran sama isinya. Apa dia bawa bom? Hahahaha. Lucu juga pemikiran gue ini. 
"Makasih!" Gue cuma bisa bilang itu, sementara gue udah kebelet buka box yang terbungkus rapi dengan kertas kado warna biru donker bermotif. Udah gatel nih jari gue buat merobek kertas kado yang setau gue itu harganya nggak kayak kertas kado biasa yang segulung harganya dua ribu doang. 
Tapi seketika gue nggak jadi langsung buka setelah bayangan Julia dan Dio yang sedang asik bercanda di kantin lewat gitu aja di pikiran gue. Jadi gue putuskan untuk tanya dulu, apa isinya box itu.
"Ini apa?" 
"Buka aja, ntar lo tau sendiri isinya." Oke, gue mulai was-was kalau gini caranya. Hmmm.. 
Pelan-pelan gue buka kertas kadonya. Sayang juga kalau gue rusak kertas kado lusyu satu ini. 
OMONA! (Kalau lo KPopers, lo pasti tau kata itu)
"Gue cuma bisa ngasih itu ke elo. Maaf kalau nggak berkesan di elonya. Kalau lo nggak suk-" 
"Gue suka kok. Makasih banyak, Di!" Gue dengar refleksnya langsung memeluk cowok itu. Gue nggak peduli dengan tatapan Luna dan sang sahabat karibnya Dio, Jodi. Yang gue inginkan saat ini cuma memeluk Dio seerat yang gue bisa, karena sekarang gue udah nggak punya peluang untuk jadi pacarnya Dio. Maafkan gue, Julia, tapi gue sayang sama pacar lo. 
"Eh, Ge?" Ups, kayaknya gue kelamaan meluknya ya? Hehehe. Habis nyaman banget sih! Nggak heran si Julia betah banget dirangkul sama dese. Nyamannya nggak terkira noh! 
"Eum, Ge. Gue mau menjelaskan sesuatu?" Gue nggak membalas perkataan Dio barusan, apalagi memotong. Gue cuma mengerutkan dahi, menunggu Dio menjelaskan dan memasang kuping baik-baik biar nggak salah denger. 
"Ee.. Soal.. Soal kejadian di kanti kapan waktu. Itu sebenernya," ada jeda sebentar karena Dio menatap Jodi kayak nanya 'beneran gue harus ngomong ini?'. Oh, yes, baby, lo harus menjelaskan ke gue segalanya! Segalanya! 
"Jadi itu cuma permainan. Gue dapet dare nembak julia dan berpacaran selama seminggu. Gue nggak ada rasa apa-apa ke Julia. Gue mohon lo ngerti, ya?" 
Oh jadi itu cuma permainan truth or dare doang toh? Lega deh kalau itu nggak beneran. Tapi siapa yang nggak mau coba di dare kayak gitu sama Dio, secara dia salah satu cowok most wanted di sekolah gitu. Dan gue denger juga si Julia tertarik banget sama Dio, sampai pernah beberapa kali ngajakin Dio jalan (Jangan kaget gue tau fakta ini, gue punya informan yang terpercaya, boo. Jodi lah, siapa lagi.)
"Lo mau nunggu sampe gue selesai dare itu, kan?"
"Jangankan selesai dare itu, sampe lo lulus juga dia bakal nunggui lo, Di!" 
JODI SIALAN! Tapi bener juga sih. Sampai Dio lulus sekolah juga gue bakal nunggu kok, karena hati gue cuma buat dia seorang. Ya kalau si guru ganteng itu nggak bikin hati gue berdesir ya. 


YAY, selesai lagi deh target gue hari ini, yup, nyelesaiin part 5nyooooo! Yuhu, gue lagi produktif banget nih, sampai di kamar mandi aja banyak ide yang tiba-tiba menyergap gue :D Seneng deh! 
So, gue nggak bakal banyak bikin partnya kok, tapi mungkin makin lama makin panjang tulisan gue di setiap partnya. Biar nggak kebanyakan juga kalian yang ke klik continue reading next part gitu deh.. 
Makasih to the readers yang sudah baca cerita amatir gue yaaa. Jangan lupa vote dan comment
Bubyee!

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.