Write, Read, and Share

Inside of Me

Tiada tiara terbaik yang kan kau temukan tanpa menyelam
Tiada mentari terhangat di ufuk timur tanpa kau melangkah
Tiada harap terjadi tanpa kau berlaku

Wednesday, April 13, 2016

Hae, gaes! Jangan lupa setelah baca vote dan comment ya! Biar tulisan gue jadinya ntar nggak membosankan dan bisa menghibur para pemirsa di manapun anda berada :) FOLLOW JUGA YAA! (yang ini kudu upcrease font)
Selamat jatuh cinta (kalau Om Christian Simamora bilang)
***
Let's say cobaan itu nggak pernah habis dalam hidup gue. Terutama hari ini, ada aja cobaan yang menimpa hidup indah gue. Yep, siapa lagi kalau bukan si DIO sang pelahap kebahagiaan gue. Eh, tapi dia tadi pagi sempet bikin gue seneng cenat cenut juga sih. Eheheh. 
Ah, tay lah, mau ngapai aja tu bocah! Gue nggak peduli lagi. 
"Kak Ge!" Eh suara Lola memecahkan lamunan kusyuk gue. Terima kasih, my lovely Lola, lo udah bikin gue sadar lagi kalau gue harus sepenuhnya nggak peduli dengan cowok satu ini, dear
"Ada apa, La?" Gue lihat ekspresi anak cewek satu ini yang mengerjap-ngerjap bingung. Lah, kalau Lola bingung, gue apaan dong? Gue tambah bingung lagi. 
Gue masih bergeming menunggu Lola ngomong. Ayo dong, dear, Kak Gea nunggu kamu ngomong ini! 
"Kak Ge!" 
Ah ni anak lama-lama gue bawa pulang terus gue paketin ke Timbuktu juga ya, kalau nggak ngomong-ngomong maunya dia apaan. "Kenapa, sayang? Ada yang salah?" 
Lola malah memiringkan kepalanya, menatap gue semakin bingung. Ini ada apa sih dengan semua orang, mendadak aneh semua begini. Kalau aja gue nggak sadar betapa lucunya anak kecil bernama Lola ini dan dia punya tittle 'ponakannya Dio', euh, udah gue tinggal di sini sendirian kali ya. Tapi, tapi, gue nggak sejahat itu kok, guys, gue cuma lagi, ah apa itu namanya, esmosi? Mosimosi? Whatev lah! Gue mendadak amnesia, by the way! 
"Kak Ge nggak mau pulang?" Eh? Giliran gue yang celingukan ke kanan, ke kiri. Kok nggak ada Dio, Nino, sama Rein sih? Kemana tu bocah tiga menghilang? Ditelan bumi? 
"Loh, memang yang lain kemana, La?" 
"Ah, Kak Ge dari tadi ngelamun terus sih! Kak Nino, Kak Rein, sama Kak Dio udah ke parkiran sepeda. Kakak sih dari tadi pikirannya nggak sama kita terus!" Lola ngambek. Yah, Lola ceritanya lagi ngambek. Telat banget sih, adek lucu. 
"Ya udah, kita susul mereka ke parkiran aja yuk!" Lola mengangguk setuju. Ya iyalah kalau nggak setuju, mau sampai kapan kami berdiri di sini, sementara cowok-cowok itu sudah balik pulang. 
"Kak Ge. Sebenernya dari tadi Kak Ge ngelamunin apa sih? Kecewa ya, Kak Dio bilang Kak Gea bukan pacarnya, padahal Kak Gea itu pacarnya Kak Dio?" Gue kembali dikejutkan dengan sederet kalimat yang Lola susun seperfect itu, sampai bikin gue menganga dibuatnya. Gue shock. Udah berapa kali hari ini gue mengalami shock ya? Dua? Tiga? Ah, yang pasti lebih dari sekali. 
"Enggak lah, La. Kak Gea memang bukan pacarnya Kak Dio." Kata gue sesantai mungkin, se"santai" gue berjalan menuju Dio yang terlihat sedang bercanda dengan Nino dan Rein. Euh, gue kehabisan stok oksigen bisa-bisa nih! 
"Lola nggak percaya!" Kata Lola dengan sedikit sentakkan kaki. 
Loh, kok malah anak ini yang kesel sama gue sih? Bukannya gue yang lagi kesel sama semua orang hari ini? Helaw! 
"Kenapa Lola?" Suara Dio terdengar menghampiri pendengaran gue. Dan ternyata tubuhnya juga sedang jalan mendekat ke arah gue dan Lola. Wajahnya, yep, menyiratkan pantulan cahaya kebingungan. Gue ulang ya, jangankan dia yang bingung, gue yang dari tadi ngomong sama Lola saja masih berusaha menelan perlahan maksud omongan Lola. Goblok, sedikit, mungkin. 
Lola geleng-geleng menanggapi pertanyaan Dio. Gue ikutan geleng-geleng, deh ntar kalau ditanya sama Dio, plus angkat bahu, mungkin. 
"Ya sudah, pulang yuk! Pasti Mami sudah nungguin kalian bertiga di rumah." Gue mencoba untuk tersenyum, sekalipun sakit waktu tersenyum sambil menatap wajah gantengnya Dio. tsaahhh! 
***
"Gea! Mana Gea?!" Histeris, as usual, kayak kalian nggak tahu Luna aja (yeh, dari cerita gue sebelumnya, kan, ya?). Suara cemprengnya memenuhi ruang kelas gue yang sedang senyap-senyapnya karena nggak ada satupun orang yang mau bertahan di kelas selama jam istirahat. Kecuali gue yang sedang berusaha menghabiskan bekal gue. 
"Heh, nenek rombeng! Diem lo! Ganggu hidup gue yang damai aja sih lo!" 
"Ehehe! Gue lagi seneng nih, dan gue sedang baik mau membagi kebahagiaan gue ke lo." Katanya sok manis. Inget ya, gue menggunakan kata 'sok' di depan kata manis. 
"Nih, gue kasih sesuatu. Titipan dari sang pemuja lo!" Medula oblongata gue dengan refleksnya memberi perintah pada alis  gue untuk menggeser posisinya a.k.a mengernyit, kalau kalian agak-agak nggak paham sama kalimat gue. 
"Saha'?
"Mario Maurer!" Katanya sinis. Eh, bisa aja si Luna, gue kan emang seseorang yang dipuja-puja si Mario Maurer. Ehehe
"Siniin!" Gue asal nyambar gulungan kertas warna biru dari tangan Luna. Semenit kemudian, gue sedang kusyuk membaca surat cinta gue yang ke seratus di tahun ini. (Maksud gue nggak beneran seratus, cuma ini doang kok :v). Eh, ralat, surat cinta gue yang pertama, tapi nggak membuat hati gue berlomba kayak lagunya Vina Panduwinata itu ya. 
"Anying! Kenapa lo kasihin gue kalau yang ngirim bukan Mario Maurer atau Dio!" Sadar atau enggaknya si Luna, gue menyebut nama Dio agak lebih lirih daripada gue menyebut nama Mario. 
"Gue bosen tu Juned maksa gue mulu. Lo sendiri aja, gih, yang bilang kalau lo nggak tertarik sama surat ini!" Boleh gue ralat dalam hati gue ya. Itu kalimatnya si Luna kayaknya lebih tepat kalau gini, "Gue bosen tu Juned maksa gue mulu. Lo sendiri aja, gih, yang bilang kalau lo nggak tertarik sama dia!". Nah kalau kayak gitu sih lebih cakep
"No, thanks! Gue nggak mau berurusan dengan cowok lain selain Mario Maurer hari ini!" 
"Lah Dio?" hhh! 
"Udah mati, kan, dese?" 
"Ngawur lo kalau ngomong! Ditinggal bener, paling cuma masuk RSJ!" 
Nggak salah juga sih, gue bakal desperate banget kalau sampai Dio ninggalin gue dengan perasaan yang menggantung gini. Akan gue minta pertanggungjawaban juga tu si bule! (Kalian udah gue kasih tau belom sih, kalau Dio itu Indo. Semua kakeknya bukan orang Indonesia, booo! 
Seketika gue mendengar suara yang annoyingnya naudzubillah, bro! Dan nongollah si budak kekinian. Cantika.
"Maafin kuping dan mulut gue yang jalang ya, Bitches! Gue mau ngasih tahu kalian, kalau barusan Dio nembak Julia, anak kelas XI IPS 2, yang sonofabitch itu! Gue sama kagetnya kayak kalian sekarang begitu gue denger kabar itu."  GUE NGGAK BISA SANTAI BEGITU SI CENTIL CANTIKA MASUK SAMBIL MENGABARKAN HAL INI! Sorry, gue beneran nggak bisa santai. 
Bitch!
Rasanya gue pingin menghampiri kelas si Julia-julia yang kata Cantika dia itu bitchy banget (gue kali ini sedang pro sama si centil satu ini ya), tapi apalah daya hamba sahaya ini yang lututnya nggak bisa digerakin sama sekali. Buat napas aja susahnya kayak lagi menyelam tanpa oksigen. Dada gue sesak banget, cuk
"Lo tahu darimana, Can?" Si Cantika masih ngelap air matanya yang nggak kunjung berhenti ngalir. So sad banget kayaknya. APALAGI GUE!
Gue sedang nggak pingin bertanya pada si Cantika, apa itu rumor nggak dibuat-buat sama dia? Apa itu air mata kadal? Gue pingin tahu langsung dari orangnya, gue nggak peduli harga diri gue jatuh sampe ke dasar jurang juga. 
Again, medula oblongata yang bekerja sama dengan medula spinalis gue memerintah kaki gue untuk berjalan tanpa tergesa-gesa ke luar. Tapi gue lupa satu hal. 
"Mereka dimana, Can?" 
"Kantin. Masih rame kok!" Katanya sambil sesenggukan alay. 
Luna ngikutin gue dengan tatapannya yang so so mother have a brokenhearted girl-like. Tangannya sudah merangkuh bahu gue, menahan gue yang hampir saja ambruk. Thanks to the mother have a brokenhearted girl-like act nya si Luna, ini beneran membantu gue banget. 
***
Bener kata Cantika. Kantin masih ramai, terutama di bagian tengah kantin banyak anak kelas XI yang menggerombol sambil tertawa. Boleh gue mengutip dari seseorang? Oke. Menangislah dalam tawa kalian! Busuk! 
Jujur aja, gue memang nggak setegar kelihatannya. Gue rapuh, sangat rapuh kalau kalian mau tahu. Hati gue nggak kayak kebanyakan cewek jaman sekarang, yang terlihat ringkih tetapi ada pendirian dan kekuatan maha jahat di dalamnya. Gue ini seperti anak ABG jaman baholak, yang pingin terlihat kuat tetapi sebenernya gue ini kayak kertas. 
Gue berjalan mendekat ke arah kerumunan yang so berisik banget itu. Siapa sih yang nggak kepo dengan kehebohan? Nenek-nenek kotangan aja bisa lebih penasaran dari pada gue yang masih cling-cling hot begini. 
Jangan lupakan sakit hati gue barusan ya, tapi. 
Kalau mau tahu gimana bentuknya hati gue sekarang, coba kalian buka gambar orang yang kelindas truk dan hatinya ikut kelindas. Ancur! Tapi jangan beneran disearch ya. 
"Kak Dio?" Sebenernya gue manggil gini kalau di depan kakak kelas aja, biar gue nggak dilabrak sama fans fanatiknya Dio. 
Dan maafkan mulut gue yang refleks manggil dia yang sedang bersenda gurau dengan teman-temannya. Dan, jangan lupakan cewek-cewek 'hitz' yang selalu ada di sekitaran mereka. Gue nggak tahu bener mereka itu cewek-cewek a.k.a. pacar-pacar mereka atau cuma dayang-dayang doang, yang pasti kehadiran mereka di sekitar Dio selalu mengganggu pandangan gue. 
"Ge? Lun? Tumben kalian ke kantin?" Bukan, bukan Dio yang ngomong. Jodi, dia yang menanyakan kenapa gue sama Luna ada di kantin. Sakit hati gue, bang! 
"Eungg.. Lagi pingin aja, tadi Mama lupa masukin bekel gue." Bohonglah pasti, tapi gengsi juga gue ngomong kalau sebenernya gue ke kantin mau memastikan isu yang Cantika bawa dengan menyenya ke kelas dan berhasil bikin gue nyesek setengah idup. 
"Nggak usah bohong gitu deh, Ge!" Luna menyenggol siku gue dengan lembut. Nyadar kali nih anak kalau gue sedang berada pada fase ringkih-ringkihnya. 
Jodi mengernyit, lalu seketika pandangannya beralih ke Dio yang sedang merangkul seorang cewek cantik berambut panjang, berseragam atasan pas badan, dan lagi merangkul pinggang Dio. Gue nggak perlu penjelasan apa-apa lagi kok, gue sudah paham sama ini semua. Gue nggak bisa terus-terusan melihat orang yang gue suka sedang bermesraan dengan cewek lain, cuk!
"Kak Jo, gue sama Luna pergi dulu ya, laper nih! Bye!" Anying bener mulut gue ini, Ya Tuhan! Bisa-bisanya gue berkata bohong pada Jodi dan hati gue sendiri. Tapi kalau kalian jadi gue, bisakah kalian tetap berkata jujur? Gue menyangsikan hal itu, btw, guys. 
"Ge, berhenti!" Gue berhenti, seperti apa yang Dio minta barusan. Gue ikutin permainan lo, handsomeJust play and watch! 
Gue berbalik. "Ada apa?"
Dio nggak berkata apa-apa, cuma berjalan ke arah gue, terus menyodorkan kotak makan. Ah, yang kemaren saja belum gue balikin, sekarang dikasih lagi. 
Gue menolak. Yah, itu yang gue lakukan setelah Dio menyodorkan kotak makan berwarna biru, warna kesukaan gue. Seenggaknya, gue bisa ikuti permainan yang Dio mulai duluan dalam waktu singkat, gue nggak mau jadi cewek cengeng sekarang. Hanya untuk sementara gue masih di sekolah kok. 
"Tapi Mama bilang lo harus makan ini. Mama udah bikinkan loh." Gue tetap menggeleng seperti yang hati jahat gue perintahkan. Gue nggak akan terima pemberian Dio mulai sekarang, gue nggak akan sambut Dio dengan senyum kayak biasanya mulai sekarang, dan gue akan menjauh dari seorang Dio mulai sekarang. 
"Lo saja yang makan. Gue lagi pingin makan siomay." Kata gue sedatar mungkin. Ihiy, bisa juga gue acting bak seorang aktris. 
Dio menatap gue curiga. Biarin aja itu orang mau natap gue curiga kek, mau natap gue marah kek, terserah dia mau apa. Karena dari sabelumnya juga dia sudah memperlakukan gue seenak jidat, kan? Jadi gue biarkan saja. 
"Nggak, lo harus makan ini! Gue udah....." Gue menunggu dia melanjutkan perkataannya dengan sangat 'sabar' dengan Luna yang juga sabar (ini beneran sabar) nungguin gue ngeladenin Dio. Oh, dear, you have the unfinished words for me! Gue udah mulai nggak sabar, yang emang dari awal gue cuma berpura-pura. 
"Lo udah apa?" 
Dio menggeleng. "Nggak, nggak jadi. Pokoknya lo harus terima ini. Mau lo makan atau lo buang, terserang lo." Ini cuma gue aja ya yang merasa Dio terlihat sangat kecewa gitu? Atau cuma otak gue yang konslet saking sakitnya hati gue? 
Gue menatap kotak bekal di tangan gue dengan ragu. Makan nggak ya, tapi masakan Tante Dina kan enak banget, udah kayak masakan chef di hotel berbintang gitu, sayang juga kalau gue buang. 
"Ya udah. Tapi makasih deh." Gue berusaha acuh dengan segala macam tatapan yang tadi menatap gue, termasuk Jodi. Tentu, Jodi tahu gue luar dalem, secara sepupu kesayangan gue gitu (New fact, ya, guys!)  
***
 DIO POV
Gue.. Gue nggak tahu harus ngelakuin apa sekarang. Gue sudah mendapatkan Gea ditangang gue secara terang-terangan kemarin, tapi gue malah mengecewakannya sekarang. Gue tahu, dari tatapannya waktu lihat gue sedang rangkulan sama Julia, matanya mengeluarkan tatapan super sedih yang langsung bisa gue mengerti. 
Seketika Jodi menatap gue galak. Gue langsung melepas rangkulan gue di bahu Julia. 
"Ge, berhenti!" gue berkata setengah berteriak dan langsung menghampiri Gea sambil menenteng kotak makan buat Gea. 
 Gea berbalik. Euh, dengan gaya slow motion yang bikin gue merinding disko saat melihat kucir kudanya bergerak pelan. "Ada apa?" Suaranya, duh, bikin gue lost in space gini sih!
Gue nggak mengatakan apa-apa, cuma menyodorkan kotak makan biru itu, isinya gue yang siapin tadi pagi, kotak makan yang kemarin juga isinya gue yang bikin, cuma mulut gue aja yang pinter banget ngeles kalau makanan itu Mama yang bikin. Dan balasannya adalah tatapan bingung Gea. Gue tahu ini pasti bikin dia curiga, tapi gue pingin melakukan ini. Kalian boleh sebut gue ini cowok jaman baholak yang akan melakukan apapun buat cewek idamannya, but this is me, guys, kalian harus terima itu. 
"Lo saja yang makan. Gue lagi pingin makan siomay." Suaranya terdengar sangat datar, defense sepertinya. Kayaknya itu harga yang harus gue terima setelah memperlihatkan rangkulan tangan gue di pundak Julia. Tapi buat kalian tahu saja, itu tadi cuma mainan truth or dare dan gue milih dare. Gue mendapat tantangan buat nembak Julia dan harus pacaran selama sebulan. GILA NGGAK TUH! Permainan truth or dare itu sejak Gea melihat 'hal itu', gue cap sebagai permainan perusak hubungan orang. Nggak cuma orang aja yang bisa ngerusak hubungan orang lain loh, permainan juga bisa ternyata.
"Nggak, lo harus makan ini! Gue udah....." Gue hampir aja keceplosan, Ya Tuhan!
"Lo udah apa?"
Gue  menggeleng. "Nggak, nggak jadi. Pokoknya lo harus terima ini. Mau lo makan atau lo buang, terserah lo" Gue kecewa, penonton. Dan gue hanya bisa pasrah mau diapakan makanan yang udah bikin gue rela bangun jam 4 subuh demi menyiapkannya.
"Ya udah. Tapi makasih deh." Alhamdulillah dan SubhanAllah :): (baca aja senyum dan sedih secara langsung) 
Gue nggak bisa apa-apa selain kembali duduk di sebelah Julia yang sekarang menyandang gelar 'pacar sebulannya Dio'. Gue harus jelasin ini ke Gea setelah pulang sekolah nanti, nggak mungkin sekarang juga melihat tatapan Jodi yang sangarnya naudzubillah itu. 
Kalian harus tahu enak nggak enaknya sahabatan sama sepupu orang yang lo suka. Beuhhh! Gue cerita tentang ini besok-besok aja ya, gue mau merangkai kata buat menjelaskan semuanya ke Gea dulu. 


UWAAA! Selesai juga part ini. Gue rada-rada lama juga bikinnya, dua jam sendiri gue ngadep komputer buat menyelesaikan ini. Akhirnya! 
Oh ya, jangan lupa komen dan vote ya, biar gue bisa tau apakah ini cerita menarik atau enggak. Gue kan baru di wattpad :( bimbing gue kalau perlu deh ya :) Follow juga jangan lupa, dahling! Kiss bye! :*

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.