Write, Read, and Share

Inside of Me

Tiada tiara terbaik yang kan kau temukan tanpa menyelam
Tiada mentari terhangat di ufuk timur tanpa kau melangkah
Tiada harap terjadi tanpa kau berlaku

Thursday, March 31, 2016

Oke, dari mana kita mulai kisah gue yang satu ini? Hmm.. mungkin dari,,,, Pada suatu hari. Ah, tunggu! Basi banget awalnya dan gue lagi nggak bikin kisah ribuan tahun lalu. So, mari kita cari kalimat lain yang lebih kekinian, 'kay?

Atau gini aja deh. Elo pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta? OH, jangan gue tanya begitu ya. Semua orang pernah merasakannya. Am I right? Dan di sinilah gue yang sedang jatuh kepada cinta, kalau menatap seorang cowok dengan perasaan berdesir bisa dibilang jatuh cinta sih. Gue emang tolol dengan menyebut diri gue sendiri sebagai pacar seorang cowok yang kerennya ngelebihin Al Ghazali, dalam khayalan gue maksudnya. Singkat cerita, gue pertama kali nyadar kalau Dio sangat pacarable, yaitu saat dia dan tim basketnya show off pada hari terakhir MOS. Bisa bayangkan sendiri bagaimana kerennya kapten basket SMA Budi Luhur saat rambut agak panjangnya basah keringat dan otot-otot di lengannya yang menonjol. 

Dan kali ini, gue sedang menonton pertandingan final basket sekolah gue bersama Luna -yang sama seperti gue, nggak pernah absen buat nonton pertandingan basket. Bedanya sama gue, Luna sih mau mantengin Jodi, temen sekelas Dio yang gue akuin gantengnya juga nggak kalah sama Dio, tapi tetep keren cowok gue lah. Eh, salah, calon cowok gue. 

"Go, Dio! Go, Dio! Go! Go! Go! Aaawww!" Suara cempreng anak-anak cheers sebenernya udah bikin telinga gue nggak nyaman, tapi apalah daya hamba ini hanya bisa menahan siksa demi siksa lain yang nikmat. Euh, repeat ma lenguage, gals! Tapi serius deh, mending gue dengerin suara Luna yang nggak pintar-pintar amat menyanyi daripada harus dengerin suara kecentilan anak cheers itu. (Yah, kelakuannya juga kecentilan, by the way.)

"Kak Jodiiiiii!!!" Buset deh! Oke, boleh gue tarik kalimatku tadi yang bilang mending dengarin Luna nyanyi? Sepertinya sama saja kayak dengerin sekelompok cewek di bawah tribun itu. "Eh, lo kalau mau teriak jangan di kuping gue dong, non!" Helooww, yang digerutui malah nyengir dan tetep jejingkrakan nggak karuan di samping gue gini. 

"Lo harusnya bersenang-senang lah, Ge! Liat noh, pujaan hati lo ganteng bener!" Kata Luna sambil menunjuk-nunjuk ke arah Dio. Nggak ada yang mau menyangkal apa yang dikatakan Luna. Dio nggak pernah nggak ganteng, apalagi saat main basket gini. EUH! Rasanya pingin ngusap rambut dia dengan handuk deh. 

"Eh, Lun, berarti ntar lo pulang bareng gue dong?" Gue baru ingat, kalau sudah menjemput Luna, berarti gue punya kewajiban mengembalikannya ke kandang 'harimau'nya. Oh, ibunya Luna itu lho, kejam banget, kalau bukan gue yang ngajak jalan, pasti Luna nggak dibolehin pergi. Kasian bener nanti yang jadi pacarnya Luna. Sorry sorry to say, boleh sombong dikit dong, gue ini orang terpercayanya Tante Mela, mamanya Luna. So, Lun, lo harus berterimakasih ke gue karena gue telah menyelamatkan lo dari kejamnya dunia. 

"Iye dong, non. Lo kudu balikin gue. Kecuali nanti si Jodi nawarin nganterin gue pulang." Oke, kali ini, hanya kali ini doang gue berharap Jodi memalingkan hatinya ke Luna dan mengantarkannya pulang. No offens lho ya! "Gue berdoa, deh, biar lo cepet jadian sama si Jodi, biar gue bebas jadi supir lo." Luna terkikik. Yah, gue anggap dia tahu maksud gue cuma bercanda doang ya. 

***

Prriiittttt!!! (Asumsikan itu bunyi peluit ya)

Pertandingan selesai. 

YAY! 

Tim sekolah gue yang menang! 89 - 34. Not bad lah (kayak gue bisa main aja sih). Gue yakin dua ribu persen, pasti habis ini Dio dan timnya bakal langsung ngadain acara party kecil-kecilan di rumah Dio sebagai perayaan atas kemenangan mereka, seperti pertandingan-pertandingan yang mereka menangkan sebelumnya. 

Say thankyou to Tante Dina -Mamanya Dio, gue bisa ikutan party selama gue masih menyandang tittle anaknya Mama Tiara. Yah, terkadang nggak nyebelin-nyebelin amat punya mama yang temennya banyak, walaupun hampir semuanya cerewetnya ya ampuunn. Tapi Tante Dina enggak cerewet kayak teman Mama kebanyakan. Dan gue sangat bersyukur atas itu. 

"Lun, ewh!" Demi manusia duyung menjijikan yang pernah gue lihat ditelevisi, Luna memotret Jodi dari tribun ini. For your information aja ya, itu hal paling norak yang pernah gue tahu, walaupun dulu banget waktu masih SMP gue juga pernah melakukan hal itu ke Dio. Kata Luna, memotret Jodi dari sini itu perbuatan yang lebih terhormat daripada harus bela-belain turun tribun cuma buat minta foto. Norak to the kampung banget, katanya waktu itu. Gue setuju sih sama alesannya Luna ini. 

"Ge, Ge! Liat deh!" Luna benar-benar pintar membuyarkan gerutuan dalam hati sahabatnya satu ini. Yah, gue mau nggak mau ikutan menoleh ke arah pandang Luna, 

OMAGAA!!

"Lun, gue nggak salah lihat, kan, ya? Itu beneran-" Oh tidak! Gue nggak mau lihat adegan dewasa di depan gue. NGGAK MAU! Ji to the jique. Seharusnya bukan aku yang mengatakan ini, tapi Luna. Gue langsung merangkul sahabat gue yang luarnya kelihatan tegar banget, tapi dalamnya rapuh. 

"Lun, udah dong, jangan ngelihatin terus! Nggak sakit apa mata lo ngelihatnya?" Niatnya mau coba menegur Luna, tapi yang ada gue malah balik dipelototin ala kuntilanak ngeden. Serius! 

"Ge, segitu menyedihkannya gue, kah, sampai Jodi nggak mau menoleh ke gue sama sekali?" Aku harus apa?! 

"Enggak, sayang. Lo bahkan jauh lebih baik ketimbang cewek centil berrok mini hijau merah itu. Nggak ada yang lebih baik dari lo." Jawab gue jujur dari lubuk hati gue yang terdalam. Oke, gue alay, sorry

Air mata Luna menggenang di pelupuk, siap untuk terjun bebas. Gue paham betul rasanya karena gue juga sering ngalamin. Untuk cewek setangguh Luna, ini berarti sudah sangat men'dongkol' di hati. Gue sendiri yang lihat aja pingin muntah, apalagi Luna yang sudah seperti minum air mineral yahh. 

"Elo emang selalu bisa bikin gue merasa lebih baik, Ge." Gue tersenyum lega. Air mata di pelupuk mata Luna menghilang.

"Gue selalu bisa lo andalkan dalam segala situasi, kecuali gue lagi kepepet banget." Satu jitakan mendarat mulus di kepalaku. Thanks to you, Lun! Sakit booo! 

***

"Ma, Gea ke rumah Dio ya!" 

"Eh, Ge, tunggu!" Gue berhenti di tempat dan berbalik. Ouh! Mama ngapain lagi bawa-bawa nampan berisi camilan segala. Gue nggak mau bawain itu nampan ke rumah Dio, mau disogok pakai apapun gue nggak mau!

"Ma, jangan suruh Gea bawa nampan itu lagi dong. Telpon Dio aja suruh ambil ke rumah ya?" Oke, my bad, gue langsung dapet jeweran keras di telinga kanan ggue. "Ma, sakit! Aduh!" Akhirnya telinga gue nggak jadi melar! 

"Mama bikinin kamu Lasagna kesukaan kamu nih, bawa ke sana aja sekalian. Eh, makannya dibagi sama Dio ya, dia kan juga suka Lasagna bikinan Mama." Gue memutar bola mata, menandakan gue malas berat menyetujui kata-kata Mama. Hell! Gue nggak mau membagi Lasagna bologna kesukaan gue dengan dia, walaupun gue ingin makan bareng dia.  "Iya deh. Gea bawain itu makanannya ke rumah Dio. Tapi Gea nggak mau bagi Lasagna Gea dengan Dio." 

Gue langsung menyambar nampan di tangan Mama cepat dan berlari keluar sebelum Mama mengomel panjang kali lebar kali tinggi. 

***

"Malem, Tante!" Kaki gue yang sudah tersetel otomatis masuk ke rumah yang cuma beda beberapa blok dari rumah gue ini. Gue menyodorkan nampan yang tadi Mama titipkan ke Tante Dina. 

"Gea, akhirnya kamu datang, Nak. Tante kira kamu bakal melewatkan syukuran kali ini." Syukuran apaan ya, Te? Ini mah namanya party aja pakai banget. Emang Tante Dina ini suka merendah. Haa!  Andai anaknya punya sikap kayak emaknya, euh, bakalan gampang kali ya deketinnya. 

"Eh, Tokek! Bawa apaan lo?" Suara yang ingin gue dengar tetapi terdengar kelewat menyebalkan. 

"Dio!" Yesss! Ada yang ngebelain gue. "Iya, Ma, sorry." Katanya sih maaf, tapi nggak terdengar menyesal sama sekali. Tipikal Dio ke gue banget. 

"Bawa apaan lo?" Tanyanya tanpa menunjuk benda yang ditanyanya. "Bola-bola keju, muffin, dan, euh, apalagi ya? Liat aja sendiri deh!" 

Loh? Eh?! Kenapa yang diambil malah totebag makan punya gue?! 

"Itu punya gue! Lo makan yang ini aja!" Tangan gue nggak bisa bergerak. Bodoh! Kenapa nggak taruh makanannya dulu sih, Ge?! Gue buru-buru meletakkan nampan itu di atas meja yang masih ada space kosongnya. 

"Wah! Lasagna!" Serunya terdengar bahagia sekali. Gue nggak jadi merampas tempat makan gue yang sekarang sudah berpindah tangan. Demi lihat wajahnya itu, gue rela deh Lasagnanya dimakan Dio. "Ya udah, makan aja sono. Tapi sisain dikit buat gue ya, Kak!" Gue mendengar Dio menghembuskan napas pelan. 

"Mending makan berdua aja deh, kasian lo nya." 

APA-APAAN INI?  

"Udah lo makan aja deh sini sama gue. Biar gue ambil sendok satu lagi." Dio nggak mendengarkan gue, mungkin lebih tepatnya nggak mau. Dia sekarang sudah kembali dari dapur dengan sebuah sendok di tangannya, siap mengambil potongan Lasagna besar. 

"Enak!!!" Hahahaha! Lucu banget sumpah suaranya! Gue berasa lagi makan sama anak kecil yang baru pertama kali merasakan pasta berlapis-lapis ini. 

"Say A!" Gue nggak salah dengar, kan, ya? What did he say? A? Dio nyuruh gue buka mulut dan dia nyuapin gue? Demi apa?

Dengan gugup gue melakukan apa yang Dio suruh, terus dia nyuapin gue dengan sesendok besar potongan pasta itu. Gue serasa ngunyah batu dalam mulut gue. Mendadak Lasagna yang ada di mulut gue susah gue kunyah. Mungkin suapan dari Dio tadi punya sihir buat mengubah pasta jadi benda keras. uh! 

"Nggak usah cengo gitu juga kali!" Oh God! Gue cuma bisa mengangguk pasrah. Gue pasrah terhadap apapun yang akan Dio lakukan pada gue, kecuali yang macem-macem ya. Gue bakal sangat marah kalau Dio melakukan hal yang aneh-aneh. 

"Eh, Ge, lo besok kosong nggak?" Gue kembali menatap wajah tampan itu. Kenapa Tante Dina dan Om Dirga bisa menggabungkan gen terbaik mereka di Dio ya? Kan gue jadi speechless gini natapnya. 

"Engg... Gue nggak ada ekskul besok." satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. OH! Ada apaan sih dia kok nanya gitu tapi begitu dijawab nggak ada kalimat apa-apa lagi?! Jadi, gue juga yang harus mancing dia ngomong? Ciihh!

"Kenapa?"

"Ehm, mau temenin gue nggak?" Bom di dadaku serasa meledak saat itu juga. GUE KAGET. Gue kaget, saudara-saudara, dan yang membuat gue kaget adalah sosok so called handsome and cool boy, Dioda Maharesi! Most wanted boy in SMA Budi Luhur. 

"Kemana?" Ada apa dengan gue sih? Kok mendadak lidah gue kayak di racun. Lemah gini. 

"Nonton." Jawaban jelas, singkat, dan padat yang berhasil membuat gue melambung jauh, terbang tinggi bersama mimpi, tenggelam dalam lautan emosi. Dan, setelah gue sadar diri, kau tlah jauh pergi, gabung lagi sama temen-temennya. 

Sial!

 'ddrrttt...
Ponsel gue bergetar, tanda satu pesan masuk. 


From: Dioda Maharesi
Gue anggap jawaban lo adalah Ya. Dandan yang cantik ya, Ge! 

Gue nggak bisa lebih bahagia daripada sekarang dalam kurun waktu selama gue suka sama Dio, itu berarti dari gue kecil, guys! 




*Yay! Selesai sudah cerpen kedua (part 1) gue :) Thanks to beloved novel-novel entah siapa aja pengarangnya yang membuat gue terinspirasi bikin cerpetn ini. Nggak panjang emang, tapi cukuplah ide gue selama mengeram di kamar mandi. Ehehehe. Hope you all enjoy this!
Don't forget to comment yak!
-Beddy

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.