Write, Read, and Share

Inside of Me

Tiada tiara terbaik yang kan kau temukan tanpa menyelam
Tiada mentari terhangat di ufuk timur tanpa kau melangkah
Tiada harap terjadi tanpa kau berlaku

Tuesday, March 29, 2016

Karena hati memiliki mata yang sangat peka. Mereka tidak melihat, tetapi hati merasakan yang seharusnya manusia rasakan. Tahukah dirimu, bahwa ketidakjelian hati dalam memilih, tidak akan mengundang penyelasan bagi siapapun yang mensyukuri betapa ia masih memiliki rasa kasih sayang. 
           Pernah mendengar kata ‘there is a good in goodbye’? Oh bahkan aku mendengarnya ribuan kali dalam setahun ini. Bagaimana bisa mereka mendeskripsikan perpisahan –terkadang untuk waktu yang sangat lama atau malah tidak akan kembali– dengan kata baik? Huh! Ya, walaupun aku percaya pada kalimat ‘setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan’, tapi bukankah perpisahan itu sangat menyakitkan? Oh, baiklah, untuk beberapa kasus, mungkin perpisahan adalah hal yang paling indah yang mereka rasakan. Ingat, hanya untuk beberapa kasus. Namun tidak denganku.
Perpisahan. Oh, bukan, maksudku hampir kehilangan lebih tepatnya. Aku hampir kehilangannya karena kebodohanku, sungguh, karena aku memang bodoh! Aku mencintanya!
Tanya
***
Sepasang tangan melingkar indah di lengan kanan seorang pria. Untuk yang entah keberapa kalinya, wanita itu menemani sang pria menghadiri pesta-pesta para sosialita Jakarta. Balutan gaun malam indah dan sepasang heels yang senada dengan gaunnya, membuat wanita yang pria itu gandeng malam ini terlihat sangat menarik.Yah, saat tidak memakai gaun pun wanita itu terlihat sangat memesona.
Ratusan pasang mata melirik iri ke arah Galih dan Tanya. ‘Betapa serasinya mereka!’, ‘Ah, mereka sangat cocok!’, ‘Seandainya aku mendapat pria seperti dia.. Bisikan mengiring mereka kemana pun mereka. Tidak heran, Galih adalah seorang direktur utama Pananggih Utama Grup dengan badan tegap dan berisi, juga wajah yang tidak dapat diragukan lagi ketampanannya. Bahkan, dagunya yang sedikit berjenggot itu membuatnya terlihat lebih ‘cowok’.
Tanya mengeratkan rangkulannya pada lengan kekar Galih, mengisyaratkan ketidaknyamanannya di tempat itu. “Nggak apa, Nya, sebentar lagi kita cabut. Oke?”. Tanya hanya mengangguk pasrah. Bukan sekali dua kali ia mendapat tatapan mengancam dari perempuan-perempuan muda yang dikenalnya sebagai putri para direktur perusahaan.
Tanya bergerak-gerak gelisah saat Galih meninggalkannya untuk mengambil softdrink. Kakinya gatal, ingin segera melepas heels dua belas sentinya dan berlari sejauh mungkin dari gedung megah yang disewa Utama Rahaja Grup untuk merayakan hari jadi perusahaan itu. Kalau bukan karena Galih yang memintanya sambil merengek-rengek, pasti Tanya sekarang sudah ada di kelas yoga mingguannya itu. Huh!
“Tanya Satyabrata?” Sebuah suara bass mengganggu lamunannya. Tanya berbalik. “Leon?”
“Leonard?” Lelaki itu tersenyum miring. Oh, kalau saja Tanya tidak ingat harga dirinya, mungkin ia sudah membeo sambil meneteskan air liurnya. Lelaki itu sangat ‘lezat’ dengan setelan jas hitam yang tampak sangat mahal, tanpa dasi menaungi kerah kemeja putihnya, dan suaranya yang seksi itu. Masih sama seperti dulu.
Tanya melangkah mendekati Leon, memastikan ia menebak dengan benar, karena memorinya terhadap lelaki itu sudah mulai memudar. Tapi, walaupun lelaki itu perlahan sudah dilupakannya, Tanya masih ingat benar bagaimana laki-laki itu membuat dirinya terluka. Luka yang sangat parah.
Tiba-tiba ingatan itu kembali membesit otaknya.
***
“Le!” Tanya berjalan dengan riangnya menuju ruangan Leon yang terletak di ujung koridor gedung lantai 8 itu. Di tangannya terdapat sebuah kantong kertas yang terlihat berat.
Tanya mendorong pelan pintu besar di hadapannya. Matanya melirik ke arah meja sekretaris Leon, namun wanita itu sibuk dengan teleponnya dengan tangan membolak-balik tumpukan kertas yang sangat tebal. Sekertaris Leon mendongak, menatap Tanya, lalu tersenyum. Sekertaris Leon menutup teleponnya lalu mengatakan ‘Pak Leon ada di dalam, Bu. Masuk saja.’ Tanpa suara. Tanya mengangguk kemudian.
Punggung tegap Leon menyambutnya dalam diam, karena lelaki itu sedang menerima telepon sambil berdiri di depan dinding kaca ruangannya.
“Iya, Yah, hari ini Leon akan ketemu dengan Rena. Leon akan putuskan setelah Leon bertemu Rena.” Putuskan? Kata itu seakan menyihir tubuh Tanya menjadi dingin dan membatu. Apa maksudnya?
“Ayah tahu betapa aku sayang padanya!” Suara Leon meninggi, menahan geram. Tanya tahu, Ayah Leon mengharapkan Leon menikah saat ini juga, tetapi Leon menunda-nunda. Sebenarnya Tanya juga kesal pada sikap Leon, tetapi apa boleh buat, Tanya juga mengerti kekhawatiran Leon pada tanggung jawab yang harus ia emban setelah berumah tangga.
“Ayah! Aku akan menikah dengan Rena. Tetapi tolong jangan Ayah setir lagi hidupku!”
Bagaikan petir yang menyambar tubuh mungil Tanya. Seketika mulut Tanya mengatup rapat, rahangnya mengeras, dan tubuhnya tiba-tiba ambruk.
“Tanya?!” Leon kaget ketika menemukan Tanya terduduk lemas sambil menggenggam erat kantong kertas di tangannya. “Kamu... Kamu kapan sampai di sini?” Leon berusaha mengendalikan kekagetannya sambil berdoa Tanya tidak mendengar percakapannya dengan Ayah di telepon.
“Jadi, kamu mau putusin aku, Le? Dan menikah dengan Rena?” Tanya berkata dengan lemah, hampir berbisik.
“Kamu dengar semuanya?” Tanya mengangguk. Air matanya mulai menyeruak keluar dari pertahanan. Tanya sudah tidak kuat lagi menahan tangisnya. Suara sesenggukan mulai terdengar dari tempat Leon berdiri.
“Baiklah kalau itu maumu. Lakukan apa yang ayahmu katakan. Lakukan apa yang kamu mau, Le!” Kalimat terakhir terdengar seperti bentakan. Ah tidak, memang sebuah bentakan.
***
“Kamu baik-baik aja, Nya?” Mungkin akan terdengar seperti ‘apa kabarmu?’ bagi orang lain, tapi itu bukan sebuah pertanyaan basa-basi yang biasa orang-orang lontarkan pada lawan bicaranya. Tipikal Leon. Dan sayangnya Tanya masih mengingat hal itu. Sial!
Tanya mengendikkan bahunya. “Yang kamu lihat aja gimana,”. Ada jeda beberapa saat sebelum Tanya menyambung kalimatnya dengan pertanyaan. “So, kamu sendiri gimana dengan rasa percayamu pada sekretarismu yang berlebihan itu?”
“Nya, bisa kita bicara sebentar?” Tanya memandang Leon dengan tatapan paling datar yang ia punya.
“Buat apa? Kita sudah selesai, kan?”
‘Hhh~’ Leon mendesah berat, lalu mengusap pelan wajahnya.
Tidak, bukan, ini bukan hanya masalah sepele yang harus Leon hadapi, tetapi ini masalah pelik tentang kepercayaannya yang merembet ke hubungannya dengan Tanya, lalu merembet ke masalah yang ayah Leon ciptakan.
“Nya, bisa aku mendapat satu kesempatan buat memperbaiki situasi ini?” Tanya Leon putus asa. Sebelumnya, ia telah mencoba beberapa kali untuk menghubungi Tanya, mendatangi kantor tempat Tanya bekerja, hingga ke rumahnya. Namun nihil, Leon tidak berhasil bertatap muka dengan Tanya barang sebentar saja.
Bimbang. Itu yang Tanya rasakan sekarang. Ia ingin pergi jauh dari jangkauan lelaki ini, lelaki yang telah membuatnya melupakan segala beban hidupnya, dan lelaki yang sama yang membuatnya terhempas kasar ke jurang. Tapi disisi lain, ia ingin tetap berada di samping Leon, dengan segala penderitaan yang lelaki ini hadapi. Tanya mengerti betul bagaimana Leon menjalani hidupnya, bagaimana Leon berjuang untuk menghormati sang Ayah, dan Leon yang pernah selalu ada untuknya.
“Nya, aku tahu, kesalahanku nggak mudah untuk kamu lupakan. Kamu berhak membenci aku sebesar apapun. Tapi, bisakah kita menyelesaikan masalah kita sebelum–”. Leon menghentikan kalimatnya, bingung, apa ia harus mengatakannya sekarang?
   Tanya menunggu Leon menyelesaikan kalimatnya. “Sebelum apa?”. Leon tidak menjawabnya langsung. Hening tercipta beberapa saat sebelum Leon kembali mendesah panjang. Beban apa yang dia sembunyikan lagi dariku? Tanya berkata dalam hati.
“Sebelum aku meninggalkan Indonesia.”
Tanya terbelalak kaget. Tapi sesaat kemudian, ia sudah bisa kembali menguasai akal sehatnya dan kembali berdiri senormal mungkin.
“Lalu? Aku bahkan nggak peduli kalau kamu mau meninggalkan bumi dan tinggal di pluto sekalian.” Senyum miring tersungging di bibir penuh Leon. Sikap Tanya yang sarkas itu membuatnya lebih lega. Tanya sudah kembali.
Dalam diam, Tanya mengharap Leon mengatakan semuanya.
“Baiklah kalau kamu nggak mau. Aku cuma ingin kamu tahu. Aku sayang kamu, nggak pernah ada niatku untuk membuatmu sakit, walaupun aku tahu aku telah melakukannya. Aku  minta maaf untuk semua itu. Dan terima kasih untuk segalanya. Aku minta maaf harus berpisah sama kamu dengan cara yang buruk. Aku hanya berharap kamu nggak menemukan cowok seperti aku lagi. Aku juga berharap, semoga Galih adalah yang terbaik buat kamu. Dan satu lagi. Ayah sudah memberiku kebebasan untuk menentukan dengan siapa aku menikah nantinya. So, Bye, Nya!” Leon memutar tubuhnya dan berjalan setenang mungkin menjauhi Tanya yang mulai menggigil menahan tangis.
“Le!” Panggil Tanya setengah berteriak. Leon berhenti sejenak. Menunggu Tanya mengeluarkan suara.
“Le, aku juga berharap kamu mendapat yang lebih baik dari aku. Wish you luck!” Setelah itu, Leon kembali melangkahkan kakinya keluar dari ballroom mewah itu. Sedangkan Tanya berlari sambil sesenggukan ke toilet. Tangisnya pecah ketika ia menutup pintu salah satu bilik toilet dengan kasar.
Le, seburuk apapun kamu, aku akan ada buat kamu. Kamu harus tahu itu. Tanya’. Tanya mengetik pesan singkat dengan cepat dan mengirimnya ke Leon.
dddrrtt~’
Leon menahan langkahnya dengan berat kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana kain.
Napasnya tertahan di kerongkongan. Sungguh? Ini bukan april mop, kan?!
Senyumnya mengembang. Sejurus kemudian ia berlari secepat yang ia bisa menuju ballroom. Matanya liar mencari sosok mungil nan indah yang tadi berdiri di depan sebuah meja yang digunakan untuk menaruh gelas bekan. Namun kosong, Tanya tidak berada di situ. Dengan segera ia menekan tombol panggil ke nomor telepon Tanya.
“Kamu dimana?”
“Toilet. Aku–”. Belum sempat Tanya menyelesaikan kalimatnya, Leon sudah menutup panggilan dan berlari menuju toilet.
Tanya baru saja keluar, saat Leon tiba-tiba menubrukkan tubuhnya ke arah Tanya. “Aduh!”. Tapi Leon tidak peduli, yang ia pedulikan saat ini hanya Tanya yang ada di pelukannya.
“Aku sayang kamu, Tanya Satyabrata!” Tanya seperti sedang menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Ia takkan melepas Leon pergi! Tidak sekarang, tidak selamanya! 




Halo! Ini cerpenku pertama kali, termasuk pertama kali di blogger. Hope you like it!

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.