Karena hati memiliki mata yang sangat peka. Mereka tidak melihat, tetapi hati merasakan yang seharusnya manusia rasakan. Tahukah dirimu, bahwa ketidakjelian hati dalam memilih, tidak akan mengundang penyelasan bagi siapapun yang mensyukuri betapa ia masih memiliki rasa kasih sayang.
Pernah
mendengar kata ‘there is a good in
goodbye’? Oh bahkan aku mendengarnya ribuan kali dalam setahun ini.
Bagaimana bisa mereka mendeskripsikan perpisahan –terkadang untuk waktu yang
sangat lama atau malah tidak akan kembali– dengan kata baik? Huh! Ya, walaupun
aku percaya pada kalimat ‘setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan’, tapi
bukankah perpisahan itu sangat menyakitkan? Oh, baiklah, untuk beberapa kasus,
mungkin perpisahan adalah hal yang paling indah yang mereka rasakan. Ingat,
hanya untuk beberapa kasus. Namun tidak denganku.
Perpisahan.
Oh, bukan, maksudku hampir kehilangan lebih tepatnya. Aku hampir kehilangannya
karena kebodohanku, sungguh, karena aku memang bodoh! Aku mencintanya!
Tanya
***
Sepasang
tangan melingkar indah di lengan kanan seorang pria. Untuk yang entah keberapa
kalinya, wanita itu menemani sang pria menghadiri pesta-pesta para sosialita
Jakarta. Balutan gaun malam indah dan sepasang heels yang senada dengan gaunnya, membuat wanita yang pria itu
gandeng malam ini terlihat sangat menarik.Yah, saat tidak memakai gaun pun
wanita itu terlihat sangat memesona.
Ratusan
pasang mata melirik iri ke arah Galih dan Tanya. ‘Betapa serasinya mereka!’, ‘Ah,
mereka sangat cocok!’, ‘Seandainya
aku mendapat pria seperti dia.’.
Bisikan mengiring mereka kemana pun mereka. Tidak heran, Galih adalah seorang
direktur utama Pananggih Utama Grup dengan badan tegap dan berisi, juga wajah
yang tidak dapat diragukan lagi ketampanannya. Bahkan, dagunya yang sedikit
berjenggot itu membuatnya terlihat lebih ‘cowok’.
Tanya
mengeratkan rangkulannya pada lengan kekar Galih, mengisyaratkan
ketidaknyamanannya di tempat itu. “Nggak apa, Nya, sebentar lagi kita cabut.
Oke?”. Tanya hanya mengangguk pasrah. Bukan sekali dua kali ia mendapat tatapan
mengancam dari perempuan-perempuan muda yang dikenalnya sebagai putri para
direktur perusahaan.
Tanya
bergerak-gerak gelisah saat Galih meninggalkannya untuk mengambil softdrink. Kakinya gatal, ingin segera
melepas heels dua belas sentinya dan
berlari sejauh mungkin dari gedung megah yang disewa Utama Rahaja Grup untuk
merayakan hari jadi perusahaan itu. Kalau bukan karena Galih yang memintanya
sambil merengek-rengek, pasti Tanya sekarang sudah ada di kelas yoga
mingguannya itu. Huh!
“Tanya
Satyabrata?” Sebuah suara bass mengganggu lamunannya. Tanya berbalik. “Leon?”
“Leonard?”
Lelaki itu tersenyum miring. Oh, kalau saja Tanya tidak ingat harga dirinya,
mungkin ia sudah membeo sambil meneteskan air liurnya. Lelaki itu sangat ‘lezat’
dengan setelan jas hitam yang tampak sangat mahal, tanpa dasi menaungi kerah
kemeja putihnya, dan suaranya yang seksi itu. Masih sama seperti dulu.
Tanya
melangkah mendekati Leon, memastikan ia menebak dengan benar, karena memorinya
terhadap lelaki itu sudah mulai memudar. Tapi, walaupun lelaki itu perlahan
sudah dilupakannya, Tanya masih ingat benar bagaimana laki-laki itu membuat
dirinya terluka. Luka yang sangat parah.
Tiba-tiba
ingatan itu kembali membesit otaknya.
***
“Le!”
Tanya berjalan dengan riangnya menuju ruangan Leon yang terletak di ujung
koridor gedung lantai 8 itu. Di tangannya terdapat sebuah kantong kertas yang
terlihat berat.
Tanya
mendorong pelan pintu besar di hadapannya. Matanya melirik ke arah meja
sekretaris Leon, namun wanita itu sibuk dengan teleponnya dengan tangan membolak-balik
tumpukan kertas yang sangat tebal. Sekertaris Leon mendongak, menatap Tanya,
lalu tersenyum. Sekertaris Leon menutup teleponnya lalu mengatakan ‘Pak Leon
ada di dalam, Bu. Masuk saja.’ Tanpa suara. Tanya mengangguk kemudian.
Punggung
tegap Leon menyambutnya dalam diam, karena lelaki itu sedang menerima telepon
sambil berdiri di depan dinding kaca ruangannya.
“Iya,
Yah, hari ini Leon akan ketemu dengan Rena. Leon akan putuskan setelah Leon
bertemu Rena.” Putuskan? Kata itu
seakan menyihir tubuh Tanya menjadi dingin dan membatu. Apa maksudnya?
“Ayah
tahu betapa aku sayang padanya!” Suara Leon meninggi, menahan geram. Tanya
tahu, Ayah Leon mengharapkan Leon menikah saat ini juga, tetapi Leon
menunda-nunda. Sebenarnya Tanya juga kesal pada sikap Leon, tetapi apa boleh
buat, Tanya juga mengerti kekhawatiran Leon pada tanggung jawab yang harus ia
emban setelah berumah tangga.
“Ayah!
Aku akan menikah dengan Rena. Tetapi tolong jangan Ayah setir lagi hidupku!”
Bagaikan
petir yang menyambar tubuh mungil Tanya. Seketika mulut Tanya mengatup rapat,
rahangnya mengeras, dan tubuhnya tiba-tiba ambruk.
“Tanya?!”
Leon kaget ketika menemukan Tanya terduduk lemas sambil menggenggam erat
kantong kertas di tangannya. “Kamu... Kamu kapan sampai di sini?” Leon berusaha
mengendalikan kekagetannya sambil berdoa Tanya tidak mendengar percakapannya
dengan Ayah di telepon.
“Jadi,
kamu mau putusin aku, Le? Dan menikah dengan Rena?” Tanya berkata dengan lemah,
hampir berbisik.
“Kamu
dengar semuanya?” Tanya mengangguk. Air matanya mulai menyeruak keluar dari
pertahanan. Tanya sudah tidak kuat lagi menahan tangisnya. Suara sesenggukan
mulai terdengar dari tempat Leon berdiri.
“Baiklah
kalau itu maumu. Lakukan apa yang ayahmu katakan. Lakukan apa yang kamu mau,
Le!” Kalimat terakhir terdengar seperti bentakan. Ah tidak, memang sebuah
bentakan.
***
“Kamu
baik-baik aja, Nya?” Mungkin akan
terdengar seperti ‘apa kabarmu?’ bagi orang lain, tapi itu bukan sebuah
pertanyaan basa-basi yang biasa orang-orang lontarkan pada lawan bicaranya.
Tipikal Leon. Dan sayangnya Tanya masih mengingat hal itu. Sial!
Tanya
mengendikkan bahunya. “Yang kamu lihat aja gimana,”. Ada jeda beberapa saat
sebelum Tanya menyambung kalimatnya dengan pertanyaan. “So, kamu sendiri gimana dengan rasa percayamu pada sekretarismu
yang berlebihan itu?”
“Nya,
bisa kita bicara sebentar?” Tanya memandang Leon dengan tatapan paling datar
yang ia punya.
“Buat
apa? Kita sudah selesai, kan?”
‘Hhh~’
Leon mendesah berat, lalu mengusap pelan wajahnya.
Tidak,
bukan, ini bukan hanya masalah sepele yang harus Leon hadapi, tetapi ini
masalah pelik tentang kepercayaannya yang merembet ke hubungannya dengan Tanya,
lalu merembet ke masalah yang ayah Leon ciptakan.
“Nya,
bisa aku mendapat satu kesempatan buat memperbaiki situasi ini?” Tanya Leon
putus asa. Sebelumnya, ia telah mencoba beberapa kali untuk menghubungi Tanya,
mendatangi kantor tempat Tanya bekerja, hingga ke rumahnya. Namun nihil, Leon
tidak berhasil bertatap muka dengan Tanya barang sebentar saja.
Bimbang.
Itu yang Tanya rasakan sekarang. Ia ingin pergi jauh dari jangkauan lelaki ini,
lelaki yang telah membuatnya melupakan segala beban hidupnya, dan lelaki yang
sama yang membuatnya terhempas kasar ke jurang. Tapi disisi lain, ia ingin
tetap berada di samping Leon, dengan segala penderitaan yang lelaki ini hadapi.
Tanya mengerti betul bagaimana Leon menjalani hidupnya, bagaimana Leon berjuang
untuk menghormati sang Ayah, dan Leon yang pernah selalu ada untuknya.
“Nya,
aku tahu, kesalahanku nggak mudah untuk kamu lupakan. Kamu berhak membenci aku
sebesar apapun. Tapi, bisakah kita menyelesaikan masalah kita sebelum–”. Leon
menghentikan kalimatnya, bingung, apa ia harus mengatakannya sekarang?
Tanya
menunggu Leon menyelesaikan kalimatnya. “Sebelum apa?”. Leon tidak menjawabnya
langsung. Hening tercipta beberapa saat sebelum Leon kembali mendesah panjang. Beban apa yang dia sembunyikan lagi dariku? Tanya
berkata dalam hati.
“Sebelum
aku meninggalkan Indonesia.”
Tanya
terbelalak kaget. Tapi sesaat kemudian, ia sudah bisa kembali menguasai akal
sehatnya dan kembali berdiri senormal mungkin.
“Lalu?
Aku bahkan nggak peduli kalau kamu mau meninggalkan bumi dan tinggal di pluto
sekalian.” Senyum miring tersungging di bibir penuh Leon. Sikap Tanya yang
sarkas itu membuatnya lebih lega. Tanya sudah kembali.
Dalam
diam, Tanya mengharap Leon mengatakan semuanya.
“Baiklah
kalau kamu nggak mau. Aku cuma ingin kamu tahu. Aku sayang kamu, nggak pernah
ada niatku untuk membuatmu sakit, walaupun aku tahu aku telah melakukannya.
Aku minta maaf untuk semua itu. Dan
terima kasih untuk segalanya. Aku minta maaf harus berpisah sama kamu dengan
cara yang buruk. Aku hanya berharap kamu nggak menemukan cowok seperti aku
lagi. Aku juga berharap, semoga Galih adalah yang terbaik buat kamu. Dan satu
lagi. Ayah sudah memberiku kebebasan untuk menentukan dengan siapa aku menikah
nantinya. So, Bye, Nya!” Leon memutar tubuhnya dan berjalan setenang mungkin
menjauhi Tanya yang mulai menggigil menahan tangis.
“Le!”
Panggil Tanya setengah berteriak. Leon berhenti sejenak. Menunggu Tanya
mengeluarkan suara.
“Le,
aku juga berharap kamu mendapat yang lebih baik dari aku. Wish you luck!” Setelah itu, Leon kembali melangkahkan kakinya
keluar dari ballroom mewah itu.
Sedangkan Tanya berlari sambil sesenggukan ke toilet. Tangisnya pecah ketika ia
menutup pintu salah satu bilik toilet dengan kasar.
‘Le, seburuk apapun kamu, aku akan ada buat
kamu. Kamu harus tahu itu. Tanya’. Tanya mengetik pesan singkat dengan
cepat dan mengirimnya ke Leon.
‘dddrrtt~’
Leon
menahan langkahnya dengan berat kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku
celana kain.
Napasnya
tertahan di kerongkongan. Sungguh? Ini bukan
april mop, kan?!
Senyumnya
mengembang. Sejurus kemudian ia berlari secepat yang ia bisa menuju ballroom. Matanya liar mencari sosok
mungil nan indah yang tadi berdiri di depan sebuah meja yang digunakan untuk
menaruh gelas bekan. Namun kosong, Tanya tidak berada di situ. Dengan segera ia
menekan tombol panggil ke nomor telepon Tanya.
“Kamu
dimana?”
“Toilet.
Aku–”. Belum sempat Tanya menyelesaikan kalimatnya, Leon sudah menutup
panggilan dan berlari menuju toilet.
Tanya
baru saja keluar, saat Leon tiba-tiba menubrukkan tubuhnya ke arah Tanya.
“Aduh!”. Tapi Leon tidak peduli, yang ia pedulikan saat ini hanya Tanya yang
ada di pelukannya.
“Aku
sayang kamu, Tanya Satyabrata!” Tanya seperti sedang menjadi wanita yang paling
bahagia di dunia. Ia takkan melepas Leon pergi! Tidak sekarang, tidak
selamanya!
Halo! Ini cerpenku pertama kali, termasuk pertama kali di blogger. Hope you like it!
0 comments:
Post a Comment