Write, Read, and Share

Enter Slide 1 Title Here

Enter Slide 2 Title Here

Enter Slide 3 Title Here

Inside of Me

Tiada tiara terbaik yang kan kau temukan tanpa menyelam
Tiada mentari terhangat di ufuk timur tanpa kau melangkah
Tiada harap terjadi tanpa kau berlaku

Thursday, March 31, 2016

Oke, dari mana kita mulai kisah gue yang satu ini? Hmm.. mungkin dari,,,, Pada suatu hari. Ah, tunggu! Basi banget awalnya dan gue lagi nggak bikin kisah ribuan tahun lalu. So, mari kita cari kalimat lain yang lebih kekinian, 'kay?

Atau gini aja deh. Elo pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta? OH, jangan gue tanya begitu ya. Semua orang pernah merasakannya. Am I right? Dan di sinilah gue yang sedang jatuh kepada cinta, kalau menatap seorang cowok dengan perasaan berdesir bisa dibilang jatuh cinta sih. Gue emang tolol dengan menyebut diri gue sendiri sebagai pacar seorang cowok yang kerennya ngelebihin Al Ghazali, dalam khayalan gue maksudnya. Singkat cerita, gue pertama kali nyadar kalau Dio sangat pacarable, yaitu saat dia dan tim basketnya show off pada hari terakhir MOS. Bisa bayangkan sendiri bagaimana kerennya kapten basket SMA Budi Luhur saat rambut agak panjangnya basah keringat dan otot-otot di lengannya yang menonjol. 

Dan kali ini, gue sedang menonton pertandingan final basket sekolah gue bersama Luna -yang sama seperti gue, nggak pernah absen buat nonton pertandingan basket. Bedanya sama gue, Luna sih mau mantengin Jodi, temen sekelas Dio yang gue akuin gantengnya juga nggak kalah sama Dio, tapi tetep keren cowok gue lah. Eh, salah, calon cowok gue. 

"Go, Dio! Go, Dio! Go! Go! Go! Aaawww!" Suara cempreng anak-anak cheers sebenernya udah bikin telinga gue nggak nyaman, tapi apalah daya hamba ini hanya bisa menahan siksa demi siksa lain yang nikmat. Euh, repeat ma lenguage, gals! Tapi serius deh, mending gue dengerin suara Luna yang nggak pintar-pintar amat menyanyi daripada harus dengerin suara kecentilan anak cheers itu. (Yah, kelakuannya juga kecentilan, by the way.)

"Kak Jodiiiiii!!!" Buset deh! Oke, boleh gue tarik kalimatku tadi yang bilang mending dengarin Luna nyanyi? Sepertinya sama saja kayak dengerin sekelompok cewek di bawah tribun itu. "Eh, lo kalau mau teriak jangan di kuping gue dong, non!" Helooww, yang digerutui malah nyengir dan tetep jejingkrakan nggak karuan di samping gue gini. 

"Lo harusnya bersenang-senang lah, Ge! Liat noh, pujaan hati lo ganteng bener!" Kata Luna sambil menunjuk-nunjuk ke arah Dio. Nggak ada yang mau menyangkal apa yang dikatakan Luna. Dio nggak pernah nggak ganteng, apalagi saat main basket gini. EUH! Rasanya pingin ngusap rambut dia dengan handuk deh. 

"Eh, Lun, berarti ntar lo pulang bareng gue dong?" Gue baru ingat, kalau sudah menjemput Luna, berarti gue punya kewajiban mengembalikannya ke kandang 'harimau'nya. Oh, ibunya Luna itu lho, kejam banget, kalau bukan gue yang ngajak jalan, pasti Luna nggak dibolehin pergi. Kasian bener nanti yang jadi pacarnya Luna. Sorry sorry to say, boleh sombong dikit dong, gue ini orang terpercayanya Tante Mela, mamanya Luna. So, Lun, lo harus berterimakasih ke gue karena gue telah menyelamatkan lo dari kejamnya dunia. 

"Iye dong, non. Lo kudu balikin gue. Kecuali nanti si Jodi nawarin nganterin gue pulang." Oke, kali ini, hanya kali ini doang gue berharap Jodi memalingkan hatinya ke Luna dan mengantarkannya pulang. No offens lho ya! "Gue berdoa, deh, biar lo cepet jadian sama si Jodi, biar gue bebas jadi supir lo." Luna terkikik. Yah, gue anggap dia tahu maksud gue cuma bercanda doang ya. 

***

Prriiittttt!!! (Asumsikan itu bunyi peluit ya)

Pertandingan selesai. 

YAY! 

Tim sekolah gue yang menang! 89 - 34. Not bad lah (kayak gue bisa main aja sih). Gue yakin dua ribu persen, pasti habis ini Dio dan timnya bakal langsung ngadain acara party kecil-kecilan di rumah Dio sebagai perayaan atas kemenangan mereka, seperti pertandingan-pertandingan yang mereka menangkan sebelumnya. 

Say thankyou to Tante Dina -Mamanya Dio, gue bisa ikutan party selama gue masih menyandang tittle anaknya Mama Tiara. Yah, terkadang nggak nyebelin-nyebelin amat punya mama yang temennya banyak, walaupun hampir semuanya cerewetnya ya ampuunn. Tapi Tante Dina enggak cerewet kayak teman Mama kebanyakan. Dan gue sangat bersyukur atas itu. 

"Lun, ewh!" Demi manusia duyung menjijikan yang pernah gue lihat ditelevisi, Luna memotret Jodi dari tribun ini. For your information aja ya, itu hal paling norak yang pernah gue tahu, walaupun dulu banget waktu masih SMP gue juga pernah melakukan hal itu ke Dio. Kata Luna, memotret Jodi dari sini itu perbuatan yang lebih terhormat daripada harus bela-belain turun tribun cuma buat minta foto. Norak to the kampung banget, katanya waktu itu. Gue setuju sih sama alesannya Luna ini. 

"Ge, Ge! Liat deh!" Luna benar-benar pintar membuyarkan gerutuan dalam hati sahabatnya satu ini. Yah, gue mau nggak mau ikutan menoleh ke arah pandang Luna, 

OMAGAA!!

"Lun, gue nggak salah lihat, kan, ya? Itu beneran-" Oh tidak! Gue nggak mau lihat adegan dewasa di depan gue. NGGAK MAU! Ji to the jique. Seharusnya bukan aku yang mengatakan ini, tapi Luna. Gue langsung merangkul sahabat gue yang luarnya kelihatan tegar banget, tapi dalamnya rapuh. 

"Lun, udah dong, jangan ngelihatin terus! Nggak sakit apa mata lo ngelihatnya?" Niatnya mau coba menegur Luna, tapi yang ada gue malah balik dipelototin ala kuntilanak ngeden. Serius! 

"Ge, segitu menyedihkannya gue, kah, sampai Jodi nggak mau menoleh ke gue sama sekali?" Aku harus apa?! 

"Enggak, sayang. Lo bahkan jauh lebih baik ketimbang cewek centil berrok mini hijau merah itu. Nggak ada yang lebih baik dari lo." Jawab gue jujur dari lubuk hati gue yang terdalam. Oke, gue alay, sorry

Air mata Luna menggenang di pelupuk, siap untuk terjun bebas. Gue paham betul rasanya karena gue juga sering ngalamin. Untuk cewek setangguh Luna, ini berarti sudah sangat men'dongkol' di hati. Gue sendiri yang lihat aja pingin muntah, apalagi Luna yang sudah seperti minum air mineral yahh. 

"Elo emang selalu bisa bikin gue merasa lebih baik, Ge." Gue tersenyum lega. Air mata di pelupuk mata Luna menghilang.

"Gue selalu bisa lo andalkan dalam segala situasi, kecuali gue lagi kepepet banget." Satu jitakan mendarat mulus di kepalaku. Thanks to you, Lun! Sakit booo! 

***

"Ma, Gea ke rumah Dio ya!" 

"Eh, Ge, tunggu!" Gue berhenti di tempat dan berbalik. Ouh! Mama ngapain lagi bawa-bawa nampan berisi camilan segala. Gue nggak mau bawain itu nampan ke rumah Dio, mau disogok pakai apapun gue nggak mau!

"Ma, jangan suruh Gea bawa nampan itu lagi dong. Telpon Dio aja suruh ambil ke rumah ya?" Oke, my bad, gue langsung dapet jeweran keras di telinga kanan ggue. "Ma, sakit! Aduh!" Akhirnya telinga gue nggak jadi melar! 

"Mama bikinin kamu Lasagna kesukaan kamu nih, bawa ke sana aja sekalian. Eh, makannya dibagi sama Dio ya, dia kan juga suka Lasagna bikinan Mama." Gue memutar bola mata, menandakan gue malas berat menyetujui kata-kata Mama. Hell! Gue nggak mau membagi Lasagna bologna kesukaan gue dengan dia, walaupun gue ingin makan bareng dia.  "Iya deh. Gea bawain itu makanannya ke rumah Dio. Tapi Gea nggak mau bagi Lasagna Gea dengan Dio." 

Gue langsung menyambar nampan di tangan Mama cepat dan berlari keluar sebelum Mama mengomel panjang kali lebar kali tinggi. 

***

"Malem, Tante!" Kaki gue yang sudah tersetel otomatis masuk ke rumah yang cuma beda beberapa blok dari rumah gue ini. Gue menyodorkan nampan yang tadi Mama titipkan ke Tante Dina. 

"Gea, akhirnya kamu datang, Nak. Tante kira kamu bakal melewatkan syukuran kali ini." Syukuran apaan ya, Te? Ini mah namanya party aja pakai banget. Emang Tante Dina ini suka merendah. Haa!  Andai anaknya punya sikap kayak emaknya, euh, bakalan gampang kali ya deketinnya. 

"Eh, Tokek! Bawa apaan lo?" Suara yang ingin gue dengar tetapi terdengar kelewat menyebalkan. 

"Dio!" Yesss! Ada yang ngebelain gue. "Iya, Ma, sorry." Katanya sih maaf, tapi nggak terdengar menyesal sama sekali. Tipikal Dio ke gue banget. 

"Bawa apaan lo?" Tanyanya tanpa menunjuk benda yang ditanyanya. "Bola-bola keju, muffin, dan, euh, apalagi ya? Liat aja sendiri deh!" 

Loh? Eh?! Kenapa yang diambil malah totebag makan punya gue?! 

"Itu punya gue! Lo makan yang ini aja!" Tangan gue nggak bisa bergerak. Bodoh! Kenapa nggak taruh makanannya dulu sih, Ge?! Gue buru-buru meletakkan nampan itu di atas meja yang masih ada space kosongnya. 

"Wah! Lasagna!" Serunya terdengar bahagia sekali. Gue nggak jadi merampas tempat makan gue yang sekarang sudah berpindah tangan. Demi lihat wajahnya itu, gue rela deh Lasagnanya dimakan Dio. "Ya udah, makan aja sono. Tapi sisain dikit buat gue ya, Kak!" Gue mendengar Dio menghembuskan napas pelan. 

"Mending makan berdua aja deh, kasian lo nya." 

APA-APAAN INI?  

"Udah lo makan aja deh sini sama gue. Biar gue ambil sendok satu lagi." Dio nggak mendengarkan gue, mungkin lebih tepatnya nggak mau. Dia sekarang sudah kembali dari dapur dengan sebuah sendok di tangannya, siap mengambil potongan Lasagna besar. 

"Enak!!!" Hahahaha! Lucu banget sumpah suaranya! Gue berasa lagi makan sama anak kecil yang baru pertama kali merasakan pasta berlapis-lapis ini. 

"Say A!" Gue nggak salah dengar, kan, ya? What did he say? A? Dio nyuruh gue buka mulut dan dia nyuapin gue? Demi apa?

Dengan gugup gue melakukan apa yang Dio suruh, terus dia nyuapin gue dengan sesendok besar potongan pasta itu. Gue serasa ngunyah batu dalam mulut gue. Mendadak Lasagna yang ada di mulut gue susah gue kunyah. Mungkin suapan dari Dio tadi punya sihir buat mengubah pasta jadi benda keras. uh! 

"Nggak usah cengo gitu juga kali!" Oh God! Gue cuma bisa mengangguk pasrah. Gue pasrah terhadap apapun yang akan Dio lakukan pada gue, kecuali yang macem-macem ya. Gue bakal sangat marah kalau Dio melakukan hal yang aneh-aneh. 

"Eh, Ge, lo besok kosong nggak?" Gue kembali menatap wajah tampan itu. Kenapa Tante Dina dan Om Dirga bisa menggabungkan gen terbaik mereka di Dio ya? Kan gue jadi speechless gini natapnya. 

"Engg... Gue nggak ada ekskul besok." satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. OH! Ada apaan sih dia kok nanya gitu tapi begitu dijawab nggak ada kalimat apa-apa lagi?! Jadi, gue juga yang harus mancing dia ngomong? Ciihh!

"Kenapa?"

"Ehm, mau temenin gue nggak?" Bom di dadaku serasa meledak saat itu juga. GUE KAGET. Gue kaget, saudara-saudara, dan yang membuat gue kaget adalah sosok so called handsome and cool boy, Dioda Maharesi! Most wanted boy in SMA Budi Luhur. 

"Kemana?" Ada apa dengan gue sih? Kok mendadak lidah gue kayak di racun. Lemah gini. 

"Nonton." Jawaban jelas, singkat, dan padat yang berhasil membuat gue melambung jauh, terbang tinggi bersama mimpi, tenggelam dalam lautan emosi. Dan, setelah gue sadar diri, kau tlah jauh pergi, gabung lagi sama temen-temennya. 

Sial!

 'ddrrttt...
Ponsel gue bergetar, tanda satu pesan masuk. 


From: Dioda Maharesi
Gue anggap jawaban lo adalah Ya. Dandan yang cantik ya, Ge! 

Gue nggak bisa lebih bahagia daripada sekarang dalam kurun waktu selama gue suka sama Dio, itu berarti dari gue kecil, guys! 




*Yay! Selesai sudah cerpen kedua (part 1) gue :) Thanks to beloved novel-novel entah siapa aja pengarangnya yang membuat gue terinspirasi bikin cerpetn ini. Nggak panjang emang, tapi cukuplah ide gue selama mengeram di kamar mandi. Ehehehe. Hope you all enjoy this!
Don't forget to comment yak!
-Beddy

Tuesday, March 29, 2016

Karena hati memiliki mata yang sangat peka. Mereka tidak melihat, tetapi hati merasakan yang seharusnya manusia rasakan. Tahukah dirimu, bahwa ketidakjelian hati dalam memilih, tidak akan mengundang penyelasan bagi siapapun yang mensyukuri betapa ia masih memiliki rasa kasih sayang. 
           Pernah mendengar kata ‘there is a good in goodbye’? Oh bahkan aku mendengarnya ribuan kali dalam setahun ini. Bagaimana bisa mereka mendeskripsikan perpisahan –terkadang untuk waktu yang sangat lama atau malah tidak akan kembali– dengan kata baik? Huh! Ya, walaupun aku percaya pada kalimat ‘setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan’, tapi bukankah perpisahan itu sangat menyakitkan? Oh, baiklah, untuk beberapa kasus, mungkin perpisahan adalah hal yang paling indah yang mereka rasakan. Ingat, hanya untuk beberapa kasus. Namun tidak denganku.
Perpisahan. Oh, bukan, maksudku hampir kehilangan lebih tepatnya. Aku hampir kehilangannya karena kebodohanku, sungguh, karena aku memang bodoh! Aku mencintanya!
Tanya
***
Sepasang tangan melingkar indah di lengan kanan seorang pria. Untuk yang entah keberapa kalinya, wanita itu menemani sang pria menghadiri pesta-pesta para sosialita Jakarta. Balutan gaun malam indah dan sepasang heels yang senada dengan gaunnya, membuat wanita yang pria itu gandeng malam ini terlihat sangat menarik.Yah, saat tidak memakai gaun pun wanita itu terlihat sangat memesona.
Ratusan pasang mata melirik iri ke arah Galih dan Tanya. ‘Betapa serasinya mereka!’, ‘Ah, mereka sangat cocok!’, ‘Seandainya aku mendapat pria seperti dia.. Bisikan mengiring mereka kemana pun mereka. Tidak heran, Galih adalah seorang direktur utama Pananggih Utama Grup dengan badan tegap dan berisi, juga wajah yang tidak dapat diragukan lagi ketampanannya. Bahkan, dagunya yang sedikit berjenggot itu membuatnya terlihat lebih ‘cowok’.
Tanya mengeratkan rangkulannya pada lengan kekar Galih, mengisyaratkan ketidaknyamanannya di tempat itu. “Nggak apa, Nya, sebentar lagi kita cabut. Oke?”. Tanya hanya mengangguk pasrah. Bukan sekali dua kali ia mendapat tatapan mengancam dari perempuan-perempuan muda yang dikenalnya sebagai putri para direktur perusahaan.
Tanya bergerak-gerak gelisah saat Galih meninggalkannya untuk mengambil softdrink. Kakinya gatal, ingin segera melepas heels dua belas sentinya dan berlari sejauh mungkin dari gedung megah yang disewa Utama Rahaja Grup untuk merayakan hari jadi perusahaan itu. Kalau bukan karena Galih yang memintanya sambil merengek-rengek, pasti Tanya sekarang sudah ada di kelas yoga mingguannya itu. Huh!
“Tanya Satyabrata?” Sebuah suara bass mengganggu lamunannya. Tanya berbalik. “Leon?”
“Leonard?” Lelaki itu tersenyum miring. Oh, kalau saja Tanya tidak ingat harga dirinya, mungkin ia sudah membeo sambil meneteskan air liurnya. Lelaki itu sangat ‘lezat’ dengan setelan jas hitam yang tampak sangat mahal, tanpa dasi menaungi kerah kemeja putihnya, dan suaranya yang seksi itu. Masih sama seperti dulu.
Tanya melangkah mendekati Leon, memastikan ia menebak dengan benar, karena memorinya terhadap lelaki itu sudah mulai memudar. Tapi, walaupun lelaki itu perlahan sudah dilupakannya, Tanya masih ingat benar bagaimana laki-laki itu membuat dirinya terluka. Luka yang sangat parah.
Tiba-tiba ingatan itu kembali membesit otaknya.
***
“Le!” Tanya berjalan dengan riangnya menuju ruangan Leon yang terletak di ujung koridor gedung lantai 8 itu. Di tangannya terdapat sebuah kantong kertas yang terlihat berat.
Tanya mendorong pelan pintu besar di hadapannya. Matanya melirik ke arah meja sekretaris Leon, namun wanita itu sibuk dengan teleponnya dengan tangan membolak-balik tumpukan kertas yang sangat tebal. Sekertaris Leon mendongak, menatap Tanya, lalu tersenyum. Sekertaris Leon menutup teleponnya lalu mengatakan ‘Pak Leon ada di dalam, Bu. Masuk saja.’ Tanpa suara. Tanya mengangguk kemudian.
Punggung tegap Leon menyambutnya dalam diam, karena lelaki itu sedang menerima telepon sambil berdiri di depan dinding kaca ruangannya.
“Iya, Yah, hari ini Leon akan ketemu dengan Rena. Leon akan putuskan setelah Leon bertemu Rena.” Putuskan? Kata itu seakan menyihir tubuh Tanya menjadi dingin dan membatu. Apa maksudnya?
“Ayah tahu betapa aku sayang padanya!” Suara Leon meninggi, menahan geram. Tanya tahu, Ayah Leon mengharapkan Leon menikah saat ini juga, tetapi Leon menunda-nunda. Sebenarnya Tanya juga kesal pada sikap Leon, tetapi apa boleh buat, Tanya juga mengerti kekhawatiran Leon pada tanggung jawab yang harus ia emban setelah berumah tangga.
“Ayah! Aku akan menikah dengan Rena. Tetapi tolong jangan Ayah setir lagi hidupku!”
Bagaikan petir yang menyambar tubuh mungil Tanya. Seketika mulut Tanya mengatup rapat, rahangnya mengeras, dan tubuhnya tiba-tiba ambruk.
“Tanya?!” Leon kaget ketika menemukan Tanya terduduk lemas sambil menggenggam erat kantong kertas di tangannya. “Kamu... Kamu kapan sampai di sini?” Leon berusaha mengendalikan kekagetannya sambil berdoa Tanya tidak mendengar percakapannya dengan Ayah di telepon.
“Jadi, kamu mau putusin aku, Le? Dan menikah dengan Rena?” Tanya berkata dengan lemah, hampir berbisik.
“Kamu dengar semuanya?” Tanya mengangguk. Air matanya mulai menyeruak keluar dari pertahanan. Tanya sudah tidak kuat lagi menahan tangisnya. Suara sesenggukan mulai terdengar dari tempat Leon berdiri.
“Baiklah kalau itu maumu. Lakukan apa yang ayahmu katakan. Lakukan apa yang kamu mau, Le!” Kalimat terakhir terdengar seperti bentakan. Ah tidak, memang sebuah bentakan.
***
“Kamu baik-baik aja, Nya?” Mungkin akan terdengar seperti ‘apa kabarmu?’ bagi orang lain, tapi itu bukan sebuah pertanyaan basa-basi yang biasa orang-orang lontarkan pada lawan bicaranya. Tipikal Leon. Dan sayangnya Tanya masih mengingat hal itu. Sial!
Tanya mengendikkan bahunya. “Yang kamu lihat aja gimana,”. Ada jeda beberapa saat sebelum Tanya menyambung kalimatnya dengan pertanyaan. “So, kamu sendiri gimana dengan rasa percayamu pada sekretarismu yang berlebihan itu?”
“Nya, bisa kita bicara sebentar?” Tanya memandang Leon dengan tatapan paling datar yang ia punya.
“Buat apa? Kita sudah selesai, kan?”
‘Hhh~’ Leon mendesah berat, lalu mengusap pelan wajahnya.
Tidak, bukan, ini bukan hanya masalah sepele yang harus Leon hadapi, tetapi ini masalah pelik tentang kepercayaannya yang merembet ke hubungannya dengan Tanya, lalu merembet ke masalah yang ayah Leon ciptakan.
“Nya, bisa aku mendapat satu kesempatan buat memperbaiki situasi ini?” Tanya Leon putus asa. Sebelumnya, ia telah mencoba beberapa kali untuk menghubungi Tanya, mendatangi kantor tempat Tanya bekerja, hingga ke rumahnya. Namun nihil, Leon tidak berhasil bertatap muka dengan Tanya barang sebentar saja.
Bimbang. Itu yang Tanya rasakan sekarang. Ia ingin pergi jauh dari jangkauan lelaki ini, lelaki yang telah membuatnya melupakan segala beban hidupnya, dan lelaki yang sama yang membuatnya terhempas kasar ke jurang. Tapi disisi lain, ia ingin tetap berada di samping Leon, dengan segala penderitaan yang lelaki ini hadapi. Tanya mengerti betul bagaimana Leon menjalani hidupnya, bagaimana Leon berjuang untuk menghormati sang Ayah, dan Leon yang pernah selalu ada untuknya.
“Nya, aku tahu, kesalahanku nggak mudah untuk kamu lupakan. Kamu berhak membenci aku sebesar apapun. Tapi, bisakah kita menyelesaikan masalah kita sebelum–”. Leon menghentikan kalimatnya, bingung, apa ia harus mengatakannya sekarang?
   Tanya menunggu Leon menyelesaikan kalimatnya. “Sebelum apa?”. Leon tidak menjawabnya langsung. Hening tercipta beberapa saat sebelum Leon kembali mendesah panjang. Beban apa yang dia sembunyikan lagi dariku? Tanya berkata dalam hati.
“Sebelum aku meninggalkan Indonesia.”
Tanya terbelalak kaget. Tapi sesaat kemudian, ia sudah bisa kembali menguasai akal sehatnya dan kembali berdiri senormal mungkin.
“Lalu? Aku bahkan nggak peduli kalau kamu mau meninggalkan bumi dan tinggal di pluto sekalian.” Senyum miring tersungging di bibir penuh Leon. Sikap Tanya yang sarkas itu membuatnya lebih lega. Tanya sudah kembali.
Dalam diam, Tanya mengharap Leon mengatakan semuanya.
“Baiklah kalau kamu nggak mau. Aku cuma ingin kamu tahu. Aku sayang kamu, nggak pernah ada niatku untuk membuatmu sakit, walaupun aku tahu aku telah melakukannya. Aku  minta maaf untuk semua itu. Dan terima kasih untuk segalanya. Aku minta maaf harus berpisah sama kamu dengan cara yang buruk. Aku hanya berharap kamu nggak menemukan cowok seperti aku lagi. Aku juga berharap, semoga Galih adalah yang terbaik buat kamu. Dan satu lagi. Ayah sudah memberiku kebebasan untuk menentukan dengan siapa aku menikah nantinya. So, Bye, Nya!” Leon memutar tubuhnya dan berjalan setenang mungkin menjauhi Tanya yang mulai menggigil menahan tangis.
“Le!” Panggil Tanya setengah berteriak. Leon berhenti sejenak. Menunggu Tanya mengeluarkan suara.
“Le, aku juga berharap kamu mendapat yang lebih baik dari aku. Wish you luck!” Setelah itu, Leon kembali melangkahkan kakinya keluar dari ballroom mewah itu. Sedangkan Tanya berlari sambil sesenggukan ke toilet. Tangisnya pecah ketika ia menutup pintu salah satu bilik toilet dengan kasar.
Le, seburuk apapun kamu, aku akan ada buat kamu. Kamu harus tahu itu. Tanya’. Tanya mengetik pesan singkat dengan cepat dan mengirimnya ke Leon.
dddrrtt~’
Leon menahan langkahnya dengan berat kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana kain.
Napasnya tertahan di kerongkongan. Sungguh? Ini bukan april mop, kan?!
Senyumnya mengembang. Sejurus kemudian ia berlari secepat yang ia bisa menuju ballroom. Matanya liar mencari sosok mungil nan indah yang tadi berdiri di depan sebuah meja yang digunakan untuk menaruh gelas bekan. Namun kosong, Tanya tidak berada di situ. Dengan segera ia menekan tombol panggil ke nomor telepon Tanya.
“Kamu dimana?”
“Toilet. Aku–”. Belum sempat Tanya menyelesaikan kalimatnya, Leon sudah menutup panggilan dan berlari menuju toilet.
Tanya baru saja keluar, saat Leon tiba-tiba menubrukkan tubuhnya ke arah Tanya. “Aduh!”. Tapi Leon tidak peduli, yang ia pedulikan saat ini hanya Tanya yang ada di pelukannya.
“Aku sayang kamu, Tanya Satyabrata!” Tanya seperti sedang menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Ia takkan melepas Leon pergi! Tidak sekarang, tidak selamanya! 




Halo! Ini cerpenku pertama kali, termasuk pertama kali di blogger. Hope you like it!

Popular Posts

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.